Mahasiswa Sasindo Terbitkan Artikel Soroti Citra Perempuan dalam Sebuah Lirik Lagu
Mahasiswa Sasindo Terbitkan Artikel Soroti Citra Perempuan dalam Sebuah Lirik Lagu
Mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2022, Murti Tri Utami, berhasil menerbitkan artikel ilmiah yang membahas representasi perempuan dalam sebuah lirik lagu. Artikel tersebut mengulas bagaimana seorang penulis lagu menggambarkan perempuan melalui sosok yang memiliki obsesi terhadap riasan wajah, sekaligus menyoroti pesan penting yang ingin disampaikan, yakni ajakan bagi perempuan untuk mencintai diri sendiri tanpa bergantung pada standar kecantikan yang melelahkan. Melalui analisis tersebut, Murti ingin menunjukkan bahwa lirik lagu tidak hanya menghibur, tetapi juga dapat menjadi ruang komunikasi yang kritis terhadap realitas sosial.
Ketertarikannya mengangkat tema tersebut berangkat dari fenomena yang ia temui di kehidupan sehari-hari. Menurut Murti, banyak perempuan yang merasa tidak percaya diri ketika keluar tanpa riasan wajah. Fenomena itu membuatnya bertanya, “bagaimana musik dan lirik dapat membingkai isu ini?”. Pertanyaan itu kemudian berkembang menjadi fokus penelitiannya yang akhirnya mendorongnya menelusuri pesan-pesan implisit dari lirik lagu yang ia kaji.
Proses penjajakan hingga artikel tersebut terbit tidak berlangsung singkat. Murti menulis artikelnya sambil terus melakukan revisi dan berdiskusi dengan dosen pengampu, sebelum kemudian mengirimkannya ke jurnal. Setelah menunggu beberapa waktu, ia menerima tanda bahwa naskahnya diterima untuk proses reviu, diikuti dengan revisi tambahan dari pihak penerbit sebelum akhirnya dinyatakan layak terbit. Menurutnya, proses yang panjang itu menjadi pengalaman penting dalam memahami bagaimana dinamika publikasi akademik sebenarnya bekerja.
Namun, perjalanan tersebut tidak lepas dari tantangan. Murti dengan jujur menyebut bahwa “rasa malas” menjadi tantangan terbesar sepanjang proses penulisan. Meski begitu, pengalaman paling tak terduga justru hadir ketika artikelnya tiba-tiba hilang. Suatu malam sekitar pukul tiga, saat ia ingin melanjutkan tulisan, ia mendapati file artikelnya lenyap. Ia mencari di seluruh folder laptop tetapi tetap tidak ditemukan.
Kejadian itu membuatnya sangat terpukul hingga ia menangis dan menelepon ibunya di tengah malam. Berkat nasihat dan dorongan dari orang tua serta kakaknya, Murti akhirnya kembali bangkit dan menulis ulang artikelnya dari awal. Meski berat, pengalaman itu justru menguatkan tekadnya untuk tidak berhenti.
Dalam proses perjalanan tersebut, sosok yang paling berjasa menurut Murti adalah kedua orang tuanya serta dosen pengampu, Angga Trio Sanjaya, S.Pd., M.Pd. Sejak awal menulis, ia selalu berkonsultasi dan meminta arahan. Setiap kali berpindah tahap, dari penulisan hingga revisi penerbit, ia selalu memberi kabar kepada orang tuanya untuk meminta doa. Ketika ia kesulitan menemukan arah analisis, Pak Angga selalu memberinya penjelasan agar ia bisa kembali menemukan jalur penulisan.
Momen paling berkesan terjadi ketika artikelnya resmi terbit. Penantian panjang selama kurang lebih satu tahun terbayar tuntas oleh rasa bahagia dan bangga. Dari pengalaman tersebut, Murti belajar bahwa proses panjang bukanlah hambatan, melainkan bagian dari perjalanan yang menumbuhkan. Ia menyadari bahwa ketika seseorang terus bergerak, meski pelan, sesuatu yang indah akan menunggu di akhir.
Untuk menjaga semangat menulis, Murti biasanya mengingat kerja keras kedua orang tuanya. Itu menjadi motivasi terbesar ketika rasa malas atau jenuh datang. Ia juga sering mencari suasana baru untuk menyegarkan pikiran, seperti menulis di kafe yang belum pernah ia kunjungi atau di rooftop kos sebagai tempat yang membuatnya nyaman dan lebih fokus.
Ke depannya, Murti berencana untuk terus menulis dan melakukan penelitian untuk artikel-artikel berikutnya. Baginya, publikasi pertama ini hanyalah langkah awal dari perjalanan panjang dalam dunia akademik. Kepada teman-teman mahasiswa, ia berpesan, “Mulai saja. Ketika lelah, istirahatlah, namun jangan berhenti.” (put/sus)









