Mahasiswa Sastra Indonesia Tembus Program AIMS 2026 di Tailan
Mahasiswa Sastra Indonesia Tembus Program AIMS 2026 di Tailan
Juniarthi Sylvia Pratiwi mengikuti program AIMS (Asian International Mobility for Student) 2026 di Thammasat University, Tailan. Mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2024 tersebut mengikuti program pertukaran pelajar untuk memperluas pengalaman akademik, mengenal budaya Tailan, dan membangun relasi internasional.
Sylvia mengenal AIMS saat mengikuti P2K pada 2024. Keinginan mengikuti pertukaran pelajar juga sudah muncul sejak SMA karena ia tertarik mempelajari budaya lain secara langsung dan menjadikan pengalaman internasional sebagai salah satu target selama kuliah.
Dirinya mempersiapkan diri dengan mengikuti kelas bahasa Inggris selama dua bulan pada Februari 2026, terutama untuk meningkatkan kemampuan speaking dan listening. Ia kemudian mengikuti proses pendaftaran dan seleksi hingga dinyatakan lolos AIMS 2026.
Proses pendaftaran sempat menghadirkan beberapa kendala. Pengajuan paspor pertamanya ditolak, sementara rencana awal mengikuti program di Korea Selatan tidak dapat dilanjutkan karena perubahan status universitas mitra AIMS.
Sylvia dibantu PIC AIMS Sastra Indonesia, Intan Rawit Sapanti, S.Pd., M.A., kemudian menghubungi beberapa universitas mitra AIMS untuk mencari alternatif. Thammasat University menjadi pilihan setelah universitas tersebut memberikan respons dan masih memiliki kesempatan penerimaan pada periode pendaftaran.
Selain kendala teknis, Sylvia juga menghadapi keraguan terhadap dirinya sendiri. Ia sempat merasa tidak cukup layak karena tidak memiliki banyak pengalaman organisasi di kampus dibandingkan mahasiswa lain.
Pengalaman mengikuti komunitas, kegiatan sukarelawan, dan menjadi tentor di luar kampus membuat Sylvia tetap berani mencoba. Proses tersebut kemudian membantunya menyadari bahwa setiap pengalaman memiliki nilai yang dapat menjadi bekal.
Kabar kelulusan AIMS menjadi momen yang sangat berkesan bagi Sylvia. Ia langsung menangis dan menghubungi orang tua serta sahabatnya untuk menyampaikan kabar tersebut.
Selama mengikuti program di Tailan, Sylvia berharap dapat bertemu mahasiswa dari berbagai negara, berinteraksi dengan dosen internasional, serta merasakan pengalaman belajar sebagai mahasiswa internasional.
Pengalaman tersebut juga memberikan manfaat bagi bidang Sastra Indonesia, khususnya linguistik. Sylvia dapat mempelajari bahasa Tailan sekaligus mengamati persamaan dan perbedaan bahasa dalam lingkungan yang berbeda.
Sylvia mengajak mahasiswa Sastra Indonesia untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, terutama listening dan speaking. Ia juga mendorong mahasiswa agar tidak takut mencoba kesempatan pertukaran pelajar.
Menurut Sylvia, mahasiswa tidak perlu minder ketika melihat pencapaian orang lain karena setiap orang memiliki perjalanan masing-masing. “Yang tahu value kita adalah diri kita sendiri, bukan orang lain,” ujarnya. (hid/sus)



