Kajian Bahasa (2): Pemanfaatan Linguistik Korpus dari Perspektif Morfologi dalam Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Karya Hamka

dokumen pribadi
Penggunaan prefiks dalam bidang morfologi dapat ditemukan pada pelbagai teks. Perlu kita ingat kembali bahwa seyogianya proses morfologis dapat dilakukan berbagai cara, salah satunya afiksasi. Dalam proses afiksasi perlu ditekankan dengan cara pengimbuhan kata, apabila imbuhan dilekatkan pada kata dasar akan mengubah bentuk kata, fungsi kata, dan makna kata. Oleh karena itu, pemakaian imbuhan harus didasarkan pada kaidah yang telah ditentukan
Seperti yang telah dipaparkan dalam pembahasan sebelumnya, berdasarkan salah satu proses afiksasi dalam kajian morfologi bahwa dapat diteliti dan dikaji menggunakan linguistik korpus. Melalui linguistik korpus kita sebagai peneliti bahasa dapat memanfaatkan dan memperoleh data pada sekumpulan teks digital maupun naskah yang ingin kita teliti tanpa harus mencari data secara manual atau mendata maupun menghitung secara manual. Teks yang tersedia pada linguistik korpus tercipta dengan alami tanpa dibuat-buat, adapun teks yang terdapat pada linguistik korpus yakni seperti buku ajar, novel, cerpen, puisi, kesusastraan, artikel, ,majalah, rekaman siaran pembicaraan ataupun bahasa lisan yang telah disusun secara sistematis, dan masih banyak lagi.
Selain itu, linguistik korpus juga menyediakam fitur linguistik sebagai akses tujuan penelitian seperti fitur frekuensi dan konkordansi. Frekuensi dalam linguistik korpus yaitu mengandung jumlah keseluruhan masing-masing kosakata yang terdapat dalam sebuah teks. Berdasarkan penelusuran melalui aplikasi korpus data seperti webcorp.org.uk, ditemukan penggunaannnya seperti afiksasi pada prefiks ter-+ benam= terbenam pada novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck karya Hamka terdapat 31 kosakata ‘terbenam’. Adapun prefiks di- + pandang= dipandang terdapat 23 kosakata ‘dipandang’ dan kosakata ‘berpesan’ dengan pembubuhan afiks ber- terdapat hanya dua kosakata saja pada novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka. Tentunya masih banyak lagi data-data teks dalam linguistik korpus yang dapat dikaji sebagai peneliti bahasa khususnya.
Namun, dalam fitur frekuensi ini ketika kita ingin meneliti, kita perlu mengetahui dan mengenali kosakata yang dicari terlebih dulu supaya dapat membandingkan dan membedakan kosakata lain. Sedangkan, konkordansi dalam linguistik korpus merupakan daftar atau urutan contoh-contoh dari kata atau kombinasi kata yang berada dalam konteksnya yang diambil dari korpus teks (Baker, et. al., 2012). Ketika jika ingin menampilkan konkordansi juga diperlukan bantuan perangkat lunak untuk menyelindiki item linguistik tertentu dalam konteksnya dengan mempertimbangkan kosakata yang di sekitarnya, yang mungkin berkisar dari satu kata ke kiri atau kanan dari item tersebut ke keseluruhan teks jika diperlukan (McEnery dan Wilson, 2001). Maka dari itu, pentingnya kita mulai memanfaatkan linguistik korpus dalam penelitian bahasa supaya dapat mengasah wawasan dan ilmu dalam khazanah bahasa, sebab keilmuan tiap zaman terus berkembang terutama dalam era digital saat ini. (WPR)