Publikasi Kedua Mahasiswa Sasindo Angkat Kajian Linguistik Forensik melalui Analisis Tuturan Terdakwa
/in Artikel, Prestasi /by IntanPublikasi Kedua Mahasiswa Sasindo Angkat Kajian Linguistik Forensik melalui Analisis Tuturan Terdakwa
Mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2022, Nur Anzlina, kembali menorehkan prestasi akademik melalui publikasi artikel ilmiah keduanya yang terbit pada jurnal Sinta 3. Artikel berjudul “Forensic Linguistic Profiling of Defendant ‘DRL’ in the Helwa Beautycare Case” tersebut mengangkat kajian linguistik forensik dengan fokus pada analisis profil kebahasaan seorang Terdakwa dalam kasus Helwa Beautycare. Melalui penelitian ini, Anzlina menganalisis aspek dialek, idiolek, register, dan variasi bahasa yang muncul dalam tuturan terdakwa menggunakan pendekatan sosiolinguistik yang dipadukan dengan analisis perangkat lunak korpus Praaline.
Ketertarikan terhadap topik ini berawal dari keinginannya untuk mengeksplorasi bidang linguistik forensik yang masih terbilang baru baginya. Menurutnya, penelitian ini menghadirkan tantangan tersendiri karena tidak hanya menuntut pemahaman teori kebahasaan, tetapi juga kemampuan untuk menghubungkan bahasa dengan konteks hukum. Proses menganalisis dialek, idiolek, register, dan variasi bahasa terdakwa menjadi pengalaman baru yang memperluas wawasan akademiknya.
Dibandingkan dengan publikasi pertamanya, proses penyusunan artikel kedua ini terasa jauh lebih kompleks dan menantang. Meskipun merasa antusias dengan topik yang dipilih, Anzlina mengaku sempat mengalami tekanan selama proses penelitian karena banyak aspek yang harus diperhatikan dalam analisis. Selain itu, naskah yang sempat diajukan ke jurnal Sinta 2 harus menghadapi penolakan. Pengalaman tersebut menjadi salah satu momen yang paling berkesan selama proses publikasi. Baginya, penolakan bukanlah akhir, melainkan kesempatan untuk belajar memperbaiki kualitas penelitian dan meningkatkan ketahanan diri sebagai penulis.
Tantangan terbesar yang dihadapi adalah memahami konsep-konsep linguistik forensik yang masih baru baginya, termasuk penggunaan perangkat lunak Praaline dalam proses analisis data. Ia harus memastikan bahwa setiap temuan, terutama yang berkaitan dengan identifikasi dialek Terdakwa, sesuai dengan data dan teori yang digunakan. Ketelitian menjadi hal yang sangat penting agar hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Dalam proses penyusunan artikel, Anzlina mendapatkan dukungan dari berbagai pihak yang turut berperan dalam perjalanan penelitiannya. Selain dorongan dari dirinya sendiri dan dukungan penuh dari kedua orang tua, ia juga memperoleh dukungan dari temannya, Putri Nirma Lailiyani, yang pada saat itu sama-sama sedang berjuang menyelesaikan revisi penelitian linguistik forensik dengan topik yang berbeda. Di samping itu, arahan dan bimbingan dari Irwan Suswandi, M.Hum, serta Tsurayya Yusra Zahirah Zahra, S.Pd., M.A. selaku dosen pembimbing menjadi bagian penting dalam proses penelitian, mulai dari tahap penyusunan hingga artikel tersebut berhasil diterbitkan.
Salah satu pengalaman yang paling menarik baginya adalah ketika pertama kali menggunakan perangkat lunak korpus Praaline untuk menganalisis data penelitian. Selain itu, pengalaman menghadapi penolakan dari jurnal yang dituju juga menjadi pelajaran berharga yang membentuk cara pandangnya terhadap proses publikasi ilmiah. Ia belajar bahwa setiap proses, termasuk kegagalan, dapat menjadi bagian penting dalam perjalanan akademik.
Ketika artikel keduanya resmi terbit, rasa syukur menjadi hal pertama yang dirasakan. Setelah melalui proses yang panjang dan penuh tantangan, publikasi tersebut menjadi bukti bahwa kerja keras dan konsistensi dapat menghasilkan pencapaian yang membanggakan. Dari dua pengalaman publikasi yang telah dijalani, Anzlina menyadari bahwa pelajaran paling berharga adalah tidak menyerah di tengah jalan. Setiap kesulitan akan selalu memiliki solusi selama seseorang tetap berusaha menyelesaikan apa yang telah dimulai.
Ke depan, ia berencana untuk mengeksplorasi topik-topik baru dan mencoba bidang penelitian yang berbeda agar dapat memperluas wawasan serta menghasilkan kontribusi ilmiah yang lebih beragam. Ia berharap pengalamannya dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk mulai menulis dan berani mempublikasikan karya ilmiah mereka.
Sebagai penutup, Anzlina berpesan, “Tetap semangat dan selesaikan apa yang sudah kamu mulai. Menulis dan publikasi membutuhkan niat serta konsistensi. Jangan menyerah di tengah jalan, karena setiap proses pasti akan membawa pelajaran yang berharga”. (put/sus)
Mahasiswa Sasindo Terbitkan Artikel Soroti Citra Perempuan dalam Sebuah Lirik Lagu
/in Prestasi /by IntanMahasiswa Sasindo Terbitkan Artikel Soroti Citra Perempuan dalam Sebuah Lirik Lagu
Mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2022, Murti Tri Utami, berhasil menerbitkan artikel ilmiah yang membahas representasi perempuan dalam sebuah lirik lagu. Artikel tersebut mengulas bagaimana seorang penulis lagu menggambarkan perempuan melalui sosok yang memiliki obsesi terhadap riasan wajah, sekaligus menyoroti pesan penting yang ingin disampaikan, yakni ajakan bagi perempuan untuk mencintai diri sendiri tanpa bergantung pada standar kecantikan yang melelahkan. Melalui analisis tersebut, Murti ingin menunjukkan bahwa lirik lagu tidak hanya menghibur, tetapi juga dapat menjadi ruang komunikasi yang kritis terhadap realitas sosial.
Ketertarikannya mengangkat tema tersebut berangkat dari fenomena yang ia temui di kehidupan sehari-hari. Menurut Murti, banyak perempuan yang merasa tidak percaya diri ketika keluar tanpa riasan wajah. Fenomena itu membuatnya bertanya, “bagaimana musik dan lirik dapat membingkai isu ini?”. Pertanyaan itu kemudian berkembang menjadi fokus penelitiannya yang akhirnya mendorongnya menelusuri pesan-pesan implisit dari lirik lagu yang ia kaji.
Proses penjajakan hingga artikel tersebut terbit tidak berlangsung singkat. Murti menulis artikelnya sambil terus melakukan revisi dan berdiskusi dengan dosen pengampu, sebelum kemudian mengirimkannya ke jurnal. Setelah menunggu beberapa waktu, ia menerima tanda bahwa naskahnya diterima untuk proses reviu, diikuti dengan revisi tambahan dari pihak penerbit sebelum akhirnya dinyatakan layak terbit. Menurutnya, proses yang panjang itu menjadi pengalaman penting dalam memahami bagaimana dinamika publikasi akademik sebenarnya bekerja.
Namun, perjalanan tersebut tidak lepas dari tantangan. Murti dengan jujur menyebut bahwa “rasa malas” menjadi tantangan terbesar sepanjang proses penulisan. Meski begitu, pengalaman paling tak terduga justru hadir ketika artikelnya tiba-tiba hilang. Suatu malam sekitar pukul tiga, saat ia ingin melanjutkan tulisan, ia mendapati file artikelnya lenyap. Ia mencari di seluruh folder laptop tetapi tetap tidak ditemukan.
Kejadian itu membuatnya sangat terpukul hingga ia menangis dan menelepon ibunya di tengah malam. Berkat nasihat dan dorongan dari orang tua serta kakaknya, Murti akhirnya kembali bangkit dan menulis ulang artikelnya dari awal. Meski berat, pengalaman itu justru menguatkan tekadnya untuk tidak berhenti.
Dalam proses perjalanan tersebut, sosok yang paling berjasa menurut Murti adalah kedua orang tuanya serta dosen pengampu, Angga Trio Sanjaya, S.Pd., M.Pd. Sejak awal menulis, ia selalu berkonsultasi dan meminta arahan. Setiap kali berpindah tahap, dari penulisan hingga revisi penerbit, ia selalu memberi kabar kepada orang tuanya untuk meminta doa. Ketika ia kesulitan menemukan arah analisis, Pak Angga selalu memberinya penjelasan agar ia bisa kembali menemukan jalur penulisan.
Momen paling berkesan terjadi ketika artikelnya resmi terbit. Penantian panjang selama kurang lebih satu tahun terbayar tuntas oleh rasa bahagia dan bangga. Dari pengalaman tersebut, Murti belajar bahwa proses panjang bukanlah hambatan, melainkan bagian dari perjalanan yang menumbuhkan. Ia menyadari bahwa ketika seseorang terus bergerak, meski pelan, sesuatu yang indah akan menunggu di akhir.
Untuk menjaga semangat menulis, Murti biasanya mengingat kerja keras kedua orang tuanya. Itu menjadi motivasi terbesar ketika rasa malas atau jenuh datang. Ia juga sering mencari suasana baru untuk menyegarkan pikiran, seperti menulis di kafe yang belum pernah ia kunjungi atau di rooftop kos sebagai tempat yang membuatnya nyaman dan lebih fokus.
Ke depannya, Murti berencana untuk terus menulis dan melakukan penelitian untuk artikel-artikel berikutnya. Baginya, publikasi pertama ini hanyalah langkah awal dari perjalanan panjang dalam dunia akademik. Kepada teman-teman mahasiswa, ia berpesan, “Mulai saja. Ketika lelah, istirahatlah, namun jangan berhenti.” (put/sus)
Mahasiswa Sastra Indonesia 2022 Terbitkan Artikel Dekonstruksi Cerpen “Istri Sempurna”
/in Prestasi /by IntanMahasiswa Sastra Indonesia 2022 Terbitkan Artikel Dekonstruksi Cerpen “Istri Sempurna”
Mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2022, Indra Nurdiawan, berhasil menerbitkan artikel ilmiah berjudul “Beyond the Ideal: Deconstructing Perfection in Aveus Har’s Istri Sempurna”. Karya ilmiah ini hadir sebagai upaya membaca ulang makna “kesempurnaan” yang ditawarkan dalam cerpen tersebut, sekaligus menunjukkan bahwa konsep yang tampak ideal justru menyimpan kontradiksi di dalamnya. Dengan pendekatan dekonstruksi Jacques Derrida, Indra mengurai bagaimana gambaran “istri sempurna” dalam cerpen tidak serta-merta menghadirkan harmoni, melainkan menghadirkan kehampaan emosional dan relasi yang rapuh.
Ketertarikan Indra terhadap cerpen “Istri Sempurna” berangkat dari keunikan naratif yang dibangun Aveus Har. Cerpen tersebut menghadirkan figur gynoid sebuah robot berwujud perempuan yang dirancang sebagai sosok istri ideal. Bagi Indra, pilihan karakter seperti ini membuka banyak ruang tafsir dan pertanyaan filosofis tentang relasi manusia, tubuh, kendali, serta makna kesempurnaan itu sendiri. “Karyanya unik, dan ruang tafsirnya luas. Saya merasa ada banyak hal yang bisa digali,” ujarnya.
Artikel ini bermula dari tugas UAS yang kemudian berkembang menjadi naskah publikasi berkat dorongan dan bimbingan dosen, Dr. Tristanti Apriyani, S.S., M.Hum. Indra mengatakan dosen pembimbing banyak membantu dalam proses penerjemahan, revisi struktur, hingga ketepatan analisis agar tulisan tersebut layak diterbitkan. Selain dosen pembimbing, Indra juga berterima kasih kepada pihak-pihak lain yang telah mendukungnya. Dukungan inilah yang membuatnya yakin untuk melanjutkan tulisannya ke tingkat publikasi.
Proses penyusunan artikel tidak berjalan mudah. Tantangan terbesar yang dihadapi Indra adalah mendalami teori dekonstruksi Derrida yang terkenal kompleks. Ia harus membaca ulang literatur teori, menelaah beragam referensi, dan memastikan bahwa konsep-konsep kunci seperti binary opposition, trace, dan différance diterapkan secara tepat dalam analisis cerpen. Selain itu, fokus analisis yang hanya pada satu teks membuat Indra harus lebih teliti dan jeli dalam membaca detail naratif. “Data sedikit itu bukan berarti mudah. Justru kita harus benar-benar presisi,” ucapnya.
Proses publikasi pun memakan waktu cukup panjang. Sebagai penulis pemula, Indra merasakan bahwa tahap ini menjadi pengalaman tak terduga sekaligus sangat berharga. Ia belajar menyesuaikan naskah dengan standar jurnal, memperbaiki bagian-bagian yang kurang kuat, dan memahami bagaimana dinamika editorial bekerja. Salah satu momen paling berkesan justru datang setelah artikel terbit, ketika cerpen “Istri Sempurna” yang ia kaji mendapat respons langsung dari sang penulis, Aveus Har. Apresiasi tersebut menjadi bentuk penghargaan yang membuat Indra merasa usahanya terbayar.
Dari proses ini, Indra menuturkan bahwa ia belajar banyak hal baru, mulai dari teknik penulisan akademik, penyusunan metode, hingga mempertahankan ketepatan analisis. Selain untuk menambah wawasan, motivasi terbesarnya dalam menyelesaikan artikel ini juga terkait kebutuhan akademik, karena publikasi ilmiah dapat dikonversi sebagai salah satu syarat kelulusan. Walau begitu, setelah penerbitan artikel ini, Indra berencana fokus pada penulisan fiksi yang sejak awal sudah menjadi minat pribadinya.
Sebagai penutup, Indra menyampaikan pesan untuk teman-teman mahasiswa yang sedang berproses dalam menulis atau sedang berada di fase penuh keraguan. “Menulis membuat segala hal jadi bermakna. Saat banyak hal terasa mengganggu, justru di situlah waktu terbaik untuk menulis,” ucapnya. (put/sus)
Mahasiswa Sasindo UAD Raih Juara di Lomba Esai Internasional dengan Topik Bahasa dan Identitas Gen Z
/in Artikel, Prestasi /by IntanMahasiswa Sasindo UAD Raih Juara di Lomba Esai Internasional dengan Topik Bahasa dan Identitas Gen Z
Mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2025, Andhin Fuadhah Rahmawati, mencatat prestasi membanggakan dengan meraih Juara 2 Esai Internasional pada kompetisi yang mengangkat tema Social, Language & Cultural. Bagi Andhin, pengalaman mengikuti lomba internasional ini menjadi tantangan besar sekaligus proses pembelajaran yang berharga. Ia mengaku kewalahan di awal dan merasa takut tidak dapat menyelesaikan esai dengan baik. Namun, kerja keras dan kegigihan membawanya pada pencapaian yang tidak ia duga.
Andhin pertama kali mengetahui informasi perlombaan melalui grup WhatsApp angkatan. Ia kemudian memilih topik yang relevan dengan kehidupan Gen Z, khususnya fenomena code-mixing di media sosial. Esainya berjudul “Blending Languages, Building Identity: How Code-Mixing Redefines Gen Z Communication in the Digital Era”. Menurutnya, penggunaan bahasa gaul dan campuran semakin masif sehingga perlu dikaji dari sudut pandang identitas budaya sekaligus kekhawatiran terhadap memudarnya kaidah bahasa Indonesia formal.
Proses penulisan esai berlangsung panjang dan penuh tantangan. Andhin memulai dengan mencari ide yang relevan dan menyusun kerangka tulisan. Ia menuliskan semua gagasan tanpa memikirkan kesempurnaan, kemudian merevisinya berkali-kali untuk memperkuat argumen, memperbaiki struktur, dan memastikan teknis penulisan sesuai aturan lomba. Kesulitan terbesar baginya adalah mengubah ide abstrak di kepala menjadi paragraf yang efektif, ditambah beban tugas kuliah yang membuat fokusnya sering terpecah.
Selama proses kompetisi, pengalaman tak terduga justru datang saat riset. Andhin menemukan satu fakta kecil yang mengubah total argumen esainya sehingga ia harus merombak banyak bagian. Meski membuat stres, ia menilai hal itu sebagai pengalaman berharga yang memperkaya cara berpikirnya. Dukungan terbesar datang dari ibu, kakak, teman dekat, serta kakak pendamping perlombaan yang selalu memotivasinya untuk terus melangkah.
Ketika pengumuman tiba, Andhin merasakan campuran antara syok, syukur, dan rasa bangga yang sulit dijelaskan. Ia mengingat detik-detik mencari namanya di daftar pemenang dengan jantung berdebar. Baginya, kemenangan ini bukan sekadar tentang gelar juara, tetapi juga validasi atas proses panjang yang penuh keraguan, begadang, dan tekad untuk tidak menyerah.
Sebagai pesan penutup untuk mahasiswa lain yang ingin mencoba menulis atau mengikuti lomba esai, Andhin berpesan, “Jangan biarkan ketidaksempurnaan menghentikan kalian untuk memulai. Kemenangan tidak datang dari ide yang langsung sempurna, tetapi dari ketekunan menulis draft pertama dan keberanian untuk merevisinya. Temukan topik yang membuat kalian semangat, tulis, revisi, dan terus belajar. Kerja keras pasti membuahkan hasil.” (put/sus)
Mahasiswa Sasindo Raih Juara Esai dan Honorable Mention pada Lomba Esai Tingkat Internasional
/in Artikel, Prestasi /by IntanMahasiswa Sasindo Raih Juara Esai dan Honorable Mention pada Lomba Esai Tingkat Internasional
Mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2025, Nurbella Safitri, berhasil meraih Juara 2 Esai Nasional sekaligus Honorable Mention 3 Presentasi pada kompetisi tingkat nasional yang diikutinya untuk pertama kalinya. Prestasi ganda ini menjadi kejutan besar bagi Nurbella, mengingat peserta lomba berasal dari berbagai angkatan dan universitas. Ia mengaku sangat bersyukur mendapatkan dua kategori sekaligus, terlebih pengalaman mengikuti rangkaian kegiatan lomba menjadi hal berharga baginya.
Nurbella mengetahui informasi lomba dari email dan grup WhatsApp. Ia memilih tema Social, Language & Cultural dengan judul esai “The Role of Language Preservation in Strengthening Indonesian Cultural Identity”. Menurutnya, di tengah pesatnya perkembangan bahasa gaul dan maraknya pencampuran bahasa, menjaga bahasa Indonesia agar tidak memudar menjadi hal penting. Dari keresahan tersebutlah, tema esai ini muncul.
Proses pengerjaan esai menjadi tantangan tersendiri, terutama karena ia harus membagi waktu antara tugas kuliah dan kegiatan di Asrama Persada UAD. Meski padat, ia tetap berkomitmen menyelesaikan esainya di sela-sela aktivitas. Untuk presentasi, ia menilai bahwa suara yang jelas dan penyampaian yang tegas turut membantunya dalam memaparkan materi sehingga lebih mudah dipahami oleh audiens.
Prestasi ini terasa semakin istimewa karena awalnya Nurbella hanya iseng mencoba mengikuti lomba dengan menyesuaikan tema pada jurusan yang ia tekuni. Dukungan keluarga serta teman-teman terdekat membuatnya semakin percaya diri hingga akhirnya berhasil meraih dua penghargaan. Ia mengaku sangat kaget sekaligus bangga ketika namanya diumumkan, mengingat proses pengerjaan dilakukan di tengah padatnya kegiatan akademik.
Sebagai penutup, Nurbella menyampaikan apresiasinya. “Menulis itu proses panjang yang penuh pelajaran. Jangan ragu untuk mulai, karena setiap tulisan punya kesempatan untuk melangkah lebih jauh dari yang kita bayangkan.” (put/sus)
Wahyu Hidayati Raih Penghargaan Best Presentation dan Honorable Mention pada Lomba Esai Tingkat Internasional
/in Berita, Prestasi /by IntanWahyu Hidayati Raih Penghargaan Best Presentation dan Honorable Mention pada Lomba Esai Tingkat Internasional
Program Studi Sastra Indonesia kembali mencatat prestasi membanggakan melalui Wahyu Hidayati, mahasiswa angkatan 2025, yang berhasil meraih Honorable 1 kategori Esai dan Juara 2 Presentasi pada kompetisi esai internasional bertema Social, Language & Cultural. Wahyu mengaku tidak menyangka dapat bersaing di level internasional karena awalnya ia hanya berniat menambah pengalaman dan relasi. Namun, proses yang ia jalani justru membawanya pada hasil yang melampaui ekspektasi.
Informasi mengenai lomba diperolehnya melalui unggahan Instagram kampus. Ketika melihat tema yang relevan dengan bidang minatnya, Wahyu langsung terdorong untuk mendaftar. Ia kemudian memilih topik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, khususnya isu perempuan dan ingin menunjukkan bagaimana sastra dapat menjadi wadah untuk membahas persoalan sosial secara kritis.
Proses penulisan esai dimulai dari membaca berbagai jurnal dan berdiskusi dengan kakak tingkat untuk memperkaya sudut pandang. Wahyu menyusun kerangka tulisan, lalu merevisi drafnya berkali-kali agar argumentasi lebih kuat dan alur lebih runtut. Tantangan terbesar baginya adalah menyeimbangkan gaya akademik dengan gaya penulisan khas mahasiswa sastra yang cenderung puitis. Ia harus belajar menulis dengan lebih lugas tanpa meninggalkan ciri khasnya.
Pada tahap presentasi, Wahyu tampil percaya diri dan berusaha menyampaikan materi dengan semangat. Ia tidak hanya membacakan isi esai, tetapi menghubungkannya dengan pengalaman pribadi sehingga penyampaiannya terasa lebih hidup. Latihan intensif pengucapan bahasa Inggris juga membantunya tampil lebih siap. Dukungan dosen pembimbing serta teman-teman sekelas menjadi faktor penting yang menguatkan mentalnya sejak awal proses hingga pengumuman hasil lomba.
Momen paling berkesan terjadi saat Wahyu membaca hasil pengumuman. Ia mengaku harus memastikan berkali-kali karena tidak percaya bisa meraih dua kategori penghargaan sekaligus. Melihat banyak teman sekelasnya juga meraih prestasi menambah rasa bangga dan kebersamaan tersendiri bagi mereka.
Pengalaman ini membuat Wahyu memahami bahwa menulis esai bukan hanya tentang menghasilkan karya, tetapi juga mengenai proses berpikir, menerima masukan, dan keberanian menyuarakan gagasan. Ia merasa lebih terbuka dengan berbagai perspektif baru dan lebih percaya diri untuk terus mengasah kemampuan menulis akademik.
“Jangan menunggu sempurna untuk mulai mencoba. Langkah pertama itu yang paling penting. Tulis apa yang kamu yakini, karena tulisan yang jujur selalu punya kekuatan,” pesannya. (put/sus)
Mahasiswa Sastra Indonesia Raih Honorable Mention Presentation pada Lomba Esai Internasional
/in Berita, Prestasi /by IntanMahasiswa Sastra Indonesia Raih Honorable Mention Presentation pada Lomba Esai Internasional
Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia kembali menorehkan prestasi membanggakan. Maizatu Deka Saufia berhasil meraih Honorable Mention 2 Presentation dalam kompetisi esai internasional yang pertama kali diikutinya. Meski sempat diliputi rasa takut karena baru pertama terjun ke ajang tingkat internasional, ia mengaku perlahan mulai percaya diri berkat dukungan dan bimbingan dari kakak pembimbing yang terus memberikan motivasi.
Informasi mengenai lomba ia peroleh dari grup kampus, dan tanpa ragu ia memutuskan mengikuti ajang tersebut karena ingin menambah pengalaman baru di bidang yang lebih luas. Dalam esainya, Deka mengangkat isu terkait rendahnya apresiasi terhadap puisi, terutama di kalangan muda. Ia melihat fenomena tersebut langsung di lingkungan sekitarnya sehingga merasa penting untuk membahas alasan di balik menurunnya minat tersebut serta upaya agar puisi kembali diminati.
Proses penulisan dimulai dari pengamatan sederhana, dilanjutkan dengan analisis penyebab rendahnya minat terhadap puisi, serta pengayaan referensi melalui jurnal dan literatur literasi sastra. Tantangan terbesar muncul ketika menyusun bagian analisis dan hasil. Namun dengan bimbingan intensif, ia berhasil menyelesaikan naskah esai hingga siap dikirimkan ke perlombaan.
Tahap presentasi menjadi pengalaman penuh perjuangan. Deka menyiapkan materi dengan membuat PowerPoint, mendalami isi esai, hingga memilih waktu tengah malam untuk merekam presentasi agar suara lebih jernih dan minim gangguan. Ia bahkan membuat dua versi video presentasi untuk memastikan hasil terbaik yang dikirim ke juri. Meski merasa kemampuan bahasa Inggrisnya belum maksimal, ia tetap berusaha tenang dan fokus sepanjang proses.
Keberhasilannya mencapai Honorable Mention 2 Presentation menjadi kejutan besar. Deka mengaku terharu karena tidak menyangka dapat meraih penghargaan, terlebih mengingat berbagai tantangan, termasuk kendala jaringan internet dan minimnya pengalaman berbicara dalam bahasa Inggris. Dukungan orang tua, keluarga, teman-teman, serta perjalanan panjang yang penuh kegagalan menjadi sumber semangat yang membuatnya bertahan hingga akhir.
Saat namanya tercantum dalam daftar pemenang, ia mengaku tak mampu menahan air mata karena rasa syukur dan bangga. Pengalaman ini mengajarkannya untuk lebih peka terhadap lingkungan, lebih berani mengangkat ide sendiri, dan lebih percaya diri dalam mempresentasikan gagasan di depan publik.
“Aku belajar bahwa keberanian itu bukan hanya soal berani tampil, tapi juga berani percaya pada gagasan sendiri. Dari proses ini, aku sadar bahwa ide sederhana pun bisa jadi sesuatu yang besar kalau kita mau mencoba,” ungkapnya. (put/sus)
Mahasiswa Sastra Indonesia Raih Best Presentation di Kompetisi Esai Internasional
/in Berita, Prestasi /by IntanMahasiswa Sastra Indonesia Raih Best Presentation di Kompetisi Esai Internasional
Mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2025, Faishol Adiswara Salman Syauqi, berhasil meraih penghargaan Best Presentation dalam kompetisi esai yang diselenggarakan oleh Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Kompetisi ini menjadi pengalaman pertama bagi Faishol, sekaligus kesempatan berharga untuk mengasah kemampuan menulis dan presentasi di tingkat internasional.
Faishol menceritakan bahwa lomba ini terasa sangat menarik karena seluruh peserta mendapatkan pelatihan terlebih dahulu sebelum mengikuti kompetisi. Pelatihan tersebut membantu peserta yang sebelumnya belum terbiasa menulis esai agar memahami teknik dan tata cara penulisan dengan baik. Informasi terkait perlombaan ia dapatkan langsung dari Bimawa melalui program Pengembangan Karakter dan Kesejahteraan, mengingat ia merupakan penerima beasiswa.
Mengangkat tema mengenai bahasa dan budaya yang mulai tergerus oleh pengaruh bahasa asing, Faishol melakukan pencarian data secara mandiri di lingkungan sekitar maupun daerah lain yang mengalami gejala serupa. Menurutnya, isu ini sangat relevan dengan kondisi sosial saat ini sehingga penting untuk diangkat dalam karya ilmiah.
Dalam proses persiapan, tantangan terbesar justru datang dari mental. Meskipun tidak berhadapan langsung dengan juri, Faishol harus menyampaikan presentasi dalam bahasa Inggris melalui kamera sebuah pengalaman yang membutuhkan keberanian dan kepercayaan diri ekstra. Ia mengakui bahwa kemampuan berbicara bahasa Inggris masih menjadi tantangan tersendiri. Sehingga saat pengumuman dirinya masuk Best Presentation menjadi kejutan yang sangat membanggakan.
Faishol menyampaikan bahwa dukungan dari mentor serta pengingat terkait tenggat waktu perlombaan sangat membantunya dalam proses ini. Pengalaman pertamanya mengikuti lomba di UAD menjadi kenangan berharga sekaligus motivasi untuk terus mengembangkan kemampuan akademik dan kreativitas di masa depan.
“Dari lomba ini saya belajar bahwa menyampaikan ide dengan bahasa asing itu penting karena audiens kita tidak hanya berasal dari Indonesia. Meski sulit, pengalaman ini membuat saya semakin percaya diri,” ujarnya. (put/sus)
Mahasiswa Sasindo Raih Juara 3 Esai Internasional dan Presentasi
/in Prestasi /by IntanMahasiswa Sasindo Raih Juara 3 Esai Internasional dan Presentasi
Mahasiswi Sastra Indonesia angkatan 2022, Rizkyana Iswahyuni, berhasil menembus daftar top 3 dalam sebuah ajang tahunan setelah menyajikan versi alternatif dari topik skripsinya yang membahas kekaburan moralitas lewat lensa Immanuel Kant. Rizkyana bercerita bahwa tujuannya ikut lomba adalah untuk menuangkan gagasan skripsi ke dalam bentuk lain, sebuah cara untuk meredakan kebingungan intelektual yang muncul saat menulis skripsi dan berharap audiens bisa memahami ide-idenya meski materi dipadatkan.
Saat presentasi, Rizkyana mengaku tidak melakukan strategi khusus untuk “menang”; ia hanya menjaga kepercayaan diri dan berusaha menyampaikan inti gagasan dengan jelas. Tantangan terbesar menurutnya adalah merangkum pembahasan filsafat yang kompleks menjadi paparan singkat tanpa kehilangan esensi sebuah pekerjaan yang membuat materi terasa sedikit membingungkan saat dipadatkan. Meski begitu, hasilnya mengejutkan. Topik yang ia rasa “sedikit aneh” itu justru mendapat tempat di antara pemenang.
Dukungan datang dari lingkungan magang dan dosen pengampu metodologi penelitian yang terus memotivasi kadang “menampar semangat” agar Rizkyana tetap menulis, meski hanya satu atau dua baris sehari. Ia menyebut rekan-rekan di tempat magang sebagai penyokong penting selama proses, membantu menjaga ritme kerja dan perasaan agar analisis tidak meluas ke arah yang tidak terkontrol. Ketiadaan ekspektasi menang membuat rasa syukur menjadi reaksi utama ketika hasil diumumkan. “Alhamdulillah,” ujarnya sederhana.
Dari pengalaman ini, Rizkyana menekankan pentingnya konsistensi. Menulis sekata-sebaris setiap hari untuk menjaga momentum. Manfaatkan waktu sebaik mungkin, jangan biarkan waktu luang berlalu tanpa produktivitas, dan selalu melihat masalah dari berbagai sudut pandang. Untuk teman-teman mahasiswa yang ingin mencoba, ia memberikan pesan tegas. Jangan takut mencoba tuangkan ide, perbaiki kalau salah, dan terus membaca serta menulis. Menurutnya, menulis bukan hanya soal buku; baca juga alam sekitar, lalu ubah keresahan menjadi gagasan.
“Jangan pernah takut mencoba apapun. Ada ide, tuangkan saja salah benar kita bisa memperbaikinya. Baca, tulis, baca, tulis. Menulis adalah tahapan paling susah dalam berbahasa”. (put/sus)

Kampus 4 (Kampus Utama)
Universitas Ahmad Dahlan
Jl. Ahmad Yani (Ringroad Selatan) Tamanan Banguntapan Bantul Yogyakarta 55166
Telepon : (0274) 563515, 511830, 379418, 371120 Ext. –
Faximille : 0274-564604
Email : prodi[at]idlitera.uad.ac.id
Informasi Tentang
Daftar di UAD dan kembangkan potensimu dengan banyak program yang bisa dipilih untuk calon mahasiswa
Informasi PMB
Universitas Ahmad Dahlan
Telp. (0274) 563515
Hotline PMB
S1 – 0853-8500-1960
S2 – 0878-3827-1960
