Wisuda Periode III 2026: Enam Mahasiswa Angkatan 2022 Sastra Indonesia UAD Lulus melalui Publikasi Artikel Ilmiah
Wisuda Periode III 2026: Enam Mahasiswa Angkatan 2022 Sastra Indonesia UAD Lulus melalui Publikasi Artikel Ilmiah
Wisuda Periode III 2026: Enam Mahasiswa Angkatan 2022 Sastra Indonesia UAD Lulus melalui Publikasi Artikel Ilmiah
Antusiasme Warga Jepang Belajar Bahasa dan Budaya Indonesia Lewat Lokakarya Batik
Workshop Diseminasi Publikasi Targetkan Dosen Sasindo Tembus Scopus
Program Studi Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (Sasindo UAD) mengadakan Workshop Diseminasi Publikasi pada Selasa, 7 April 2026 dengan menghadirkan Prof. Dr. Irwan Abdullah dari Universitas Gadjah Mada. Kegiatan ini difokuskan pada penguatan kemampuan dosen dalam menulis artikel ilmiah yang terstruktur, tajam, dan sesuai dengan standar jurnal internasional.
Workshop ini diikuti oleh dosen Sastra Indonesia. Suasana kegiatan berlangsung cukup intens karena pembahasan langsung mengarah pada praktik penulisan, mulai dari penentuan topik hingga penyusunan kerangka artikel yang siap dikembangkan menjadi naskah publikasi.
Dalam penyampaian materi, dijelaskan paradigma penulisan ilmiah berbasis SPINS (Specific, Powerful, Important, Novelty, Supported) sebagai dasar dalam membangun argumen penelitian yang kuat. Selain itu, peserta juga diarahkan untuk menentukan topik berbasis isu strategis (CCTES: Controversy, Change, Trend, Emergency, Solution) agar penelitian yang ditulis memiliki relevansi dan kebaruan.
Pembahasan juga mencakup penyusunan judul yang tepat dengan memperhatikan unsur objek formal, objek material, dan konteks penelitian. Peserta kemudian diajak memahami struktur artikel ilmiah secara utuh, mulai dari penulisan abstrak, introduction, literature review, method, results, discussion, hingga conclusion, termasuk bagaimana menyusun bagian hasil secara deskriptif, kritis, dan transformatif.
Melalui workshop ini, diharapkan dosen Sasindo UAD dapat lebih percaya diri dalam mengembangkan tulisan ilmiah yang tidak hanya rapi secara struktur, tetapi juga kuat secara substansi. Selain itu, kegiatan ini menjadi salah satu langkah untuk mendorong peningkatan kualitas publikasi ilmiah yang lebih konsisten dan berdaya saing di tingkat internasional. (put/sus)
Wahyu Hidayati Raih Penghargaan Best Presentation dan Honorable Mention pada Lomba Esai Tingkat Internasional
Program Studi Sastra Indonesia kembali mencatat prestasi membanggakan melalui Wahyu Hidayati, mahasiswa angkatan 2025, yang berhasil meraih Honorable 1 kategori Esai dan Juara 2 Presentasi pada kompetisi esai internasional bertema Social, Language & Cultural. Wahyu mengaku tidak menyangka dapat bersaing di level internasional karena awalnya ia hanya berniat menambah pengalaman dan relasi. Namun, proses yang ia jalani justru membawanya pada hasil yang melampaui ekspektasi.
Informasi mengenai lomba diperolehnya melalui unggahan Instagram kampus. Ketika melihat tema yang relevan dengan bidang minatnya, Wahyu langsung terdorong untuk mendaftar. Ia kemudian memilih topik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, khususnya isu perempuan dan ingin menunjukkan bagaimana sastra dapat menjadi wadah untuk membahas persoalan sosial secara kritis.
Proses penulisan esai dimulai dari membaca berbagai jurnal dan berdiskusi dengan kakak tingkat untuk memperkaya sudut pandang. Wahyu menyusun kerangka tulisan, lalu merevisi drafnya berkali-kali agar argumentasi lebih kuat dan alur lebih runtut. Tantangan terbesar baginya adalah menyeimbangkan gaya akademik dengan gaya penulisan khas mahasiswa sastra yang cenderung puitis. Ia harus belajar menulis dengan lebih lugas tanpa meninggalkan ciri khasnya.
Pada tahap presentasi, Wahyu tampil percaya diri dan berusaha menyampaikan materi dengan semangat. Ia tidak hanya membacakan isi esai, tetapi menghubungkannya dengan pengalaman pribadi sehingga penyampaiannya terasa lebih hidup. Latihan intensif pengucapan bahasa Inggris juga membantunya tampil lebih siap. Dukungan dosen pembimbing serta teman-teman sekelas menjadi faktor penting yang menguatkan mentalnya sejak awal proses hingga pengumuman hasil lomba.
Momen paling berkesan terjadi saat Wahyu membaca hasil pengumuman. Ia mengaku harus memastikan berkali-kali karena tidak percaya bisa meraih dua kategori penghargaan sekaligus. Melihat banyak teman sekelasnya juga meraih prestasi menambah rasa bangga dan kebersamaan tersendiri bagi mereka.
Pengalaman ini membuat Wahyu memahami bahwa menulis esai bukan hanya tentang menghasilkan karya, tetapi juga mengenai proses berpikir, menerima masukan, dan keberanian menyuarakan gagasan. Ia merasa lebih terbuka dengan berbagai perspektif baru dan lebih percaya diri untuk terus mengasah kemampuan menulis akademik.
“Jangan menunggu sempurna untuk mulai mencoba. Langkah pertama itu yang paling penting. Tulis apa yang kamu yakini, karena tulisan yang jujur selalu punya kekuatan,” pesannya. (put/sus)
Mahasiswa Sastra Indonesia Raih Honorable Mention Presentation pada Lomba Esai Internasional
Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia kembali menorehkan prestasi membanggakan. Maizatu Deka Saufia berhasil meraih Honorable Mention 2 Presentation dalam kompetisi esai internasional yang pertama kali diikutinya. Meski sempat diliputi rasa takut karena baru pertama terjun ke ajang tingkat internasional, ia mengaku perlahan mulai percaya diri berkat dukungan dan bimbingan dari kakak pembimbing yang terus memberikan motivasi.
Informasi mengenai lomba ia peroleh dari grup kampus, dan tanpa ragu ia memutuskan mengikuti ajang tersebut karena ingin menambah pengalaman baru di bidang yang lebih luas. Dalam esainya, Deka mengangkat isu terkait rendahnya apresiasi terhadap puisi, terutama di kalangan muda. Ia melihat fenomena tersebut langsung di lingkungan sekitarnya sehingga merasa penting untuk membahas alasan di balik menurunnya minat tersebut serta upaya agar puisi kembali diminati.
Proses penulisan dimulai dari pengamatan sederhana, dilanjutkan dengan analisis penyebab rendahnya minat terhadap puisi, serta pengayaan referensi melalui jurnal dan literatur literasi sastra. Tantangan terbesar muncul ketika menyusun bagian analisis dan hasil. Namun dengan bimbingan intensif, ia berhasil menyelesaikan naskah esai hingga siap dikirimkan ke perlombaan.
Tahap presentasi menjadi pengalaman penuh perjuangan. Deka menyiapkan materi dengan membuat PowerPoint, mendalami isi esai, hingga memilih waktu tengah malam untuk merekam presentasi agar suara lebih jernih dan minim gangguan. Ia bahkan membuat dua versi video presentasi untuk memastikan hasil terbaik yang dikirim ke juri. Meski merasa kemampuan bahasa Inggrisnya belum maksimal, ia tetap berusaha tenang dan fokus sepanjang proses.
Keberhasilannya mencapai Honorable Mention 2 Presentation menjadi kejutan besar. Deka mengaku terharu karena tidak menyangka dapat meraih penghargaan, terlebih mengingat berbagai tantangan, termasuk kendala jaringan internet dan minimnya pengalaman berbicara dalam bahasa Inggris. Dukungan orang tua, keluarga, teman-teman, serta perjalanan panjang yang penuh kegagalan menjadi sumber semangat yang membuatnya bertahan hingga akhir.
Saat namanya tercantum dalam daftar pemenang, ia mengaku tak mampu menahan air mata karena rasa syukur dan bangga. Pengalaman ini mengajarkannya untuk lebih peka terhadap lingkungan, lebih berani mengangkat ide sendiri, dan lebih percaya diri dalam mempresentasikan gagasan di depan publik.
“Aku belajar bahwa keberanian itu bukan hanya soal berani tampil, tapi juga berani percaya pada gagasan sendiri. Dari proses ini, aku sadar bahwa ide sederhana pun bisa jadi sesuatu yang besar kalau kita mau mencoba,” ungkapnya. (put/sus)
Mahasiswa Sastra Indonesia Raih Best Presentation di Kompetisi Esai Internasional
Mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2025, Faishol Adiswara Salman Syauqi, berhasil meraih penghargaan Best Presentation dalam kompetisi esai yang diselenggarakan oleh Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Kompetisi ini menjadi pengalaman pertama bagi Faishol, sekaligus kesempatan berharga untuk mengasah kemampuan menulis dan presentasi di tingkat internasional.
Faishol menceritakan bahwa lomba ini terasa sangat menarik karena seluruh peserta mendapatkan pelatihan terlebih dahulu sebelum mengikuti kompetisi. Pelatihan tersebut membantu peserta yang sebelumnya belum terbiasa menulis esai agar memahami teknik dan tata cara penulisan dengan baik. Informasi terkait perlombaan ia dapatkan langsung dari Bimawa melalui program Pengembangan Karakter dan Kesejahteraan, mengingat ia merupakan penerima beasiswa.
Mengangkat tema mengenai bahasa dan budaya yang mulai tergerus oleh pengaruh bahasa asing, Faishol melakukan pencarian data secara mandiri di lingkungan sekitar maupun daerah lain yang mengalami gejala serupa. Menurutnya, isu ini sangat relevan dengan kondisi sosial saat ini sehingga penting untuk diangkat dalam karya ilmiah.
Dalam proses persiapan, tantangan terbesar justru datang dari mental. Meskipun tidak berhadapan langsung dengan juri, Faishol harus menyampaikan presentasi dalam bahasa Inggris melalui kamera sebuah pengalaman yang membutuhkan keberanian dan kepercayaan diri ekstra. Ia mengakui bahwa kemampuan berbicara bahasa Inggris masih menjadi tantangan tersendiri. Sehingga saat pengumuman dirinya masuk Best Presentation menjadi kejutan yang sangat membanggakan.
Faishol menyampaikan bahwa dukungan dari mentor serta pengingat terkait tenggat waktu perlombaan sangat membantunya dalam proses ini. Pengalaman pertamanya mengikuti lomba di UAD menjadi kenangan berharga sekaligus motivasi untuk terus mengembangkan kemampuan akademik dan kreativitas di masa depan.
“Dari lomba ini saya belajar bahwa menyampaikan ide dengan bahasa asing itu penting karena audiens kita tidak hanya berasal dari Indonesia. Meski sulit, pengalaman ini membuat saya semakin percaya diri,” ujarnya. (put/sus)
Sasindo UAD Gelar Workshop Hibah Penelitian dan Pengabdian, Tekankan Kolaborasi dan Dampak Nyata

Program Studi Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (Sasindo UAD) mengadakan Workshop Hibah Penelitian dan Pengabdian pada Senin, 6 April 2026 dengan pemateri Prof. Dr. Dwi Sulisworo, M.T. dan Prof. Ir. Anton Yudhana, S.T., M.T., Ph.D. Kegiatan ini dilakukan untuk memberi gambaran yang lebih jelas tentang penyusunan proposal hibah, khususnya pada bidang sosial humaniora.
Workshop ini diikuti oleh mahasiswa serta dosen. Sepanjang pemaparan, audiens cukup interaktif sehingga membuat diskusi jadi lebih hidup dan tidak kaku.
Dalam penyampaian materi, dijelaskan bahwa proposal hibah tidak cukup hanya rapi secara administratif, tetapi juga harus berangkat dari permasalahan nyata di masyarakat. Peserta diajak untuk lebih peka melihat kondisi sekitar dan menyusun program yang memang bisa dijalankan, bukan sekadar ide di atas kertas.
Selain itu, kolaborasi juga menjadi poin penting yang dibahas. Keterlibatan dosen, mahasiswa, dan mitra dinilai bisa memperkuat isi proposal sekaligus memperbesar dampak program yang dibuat. Jadi, program yang disusun tidak hanya bagus secara konsep, tapi juga lebih siap untuk diterapkan.

Melalui kegiatan ini, dosen dan mahasiswa diharapkan Sasindo mulai semakin aktif menyusun proposal hibah dengan lebih terarah dan realistis. Workshop ini juga jadi langkah awal supaya ke depannya semakin banyak program penelitian dan pengabdian yang tidak hanya selesai sebagai laporan, tapi benar-benar terasa manfaatnya di masyarakat. (put/sus)
Mahasiswi Sastra Indonesia UAD Lolos Program AIMS ke BUFS Korea Selatan
Mahasiswi Sastra Indonesia angkatan 2022, Murti Tri Utami, berhasil lolos dalam Program ASEAN International Mobility for Students (AIMS) dan akan menempuh studi di Busan University of Foreign Studies (BUFS), Korea Selatan. Program ini menjadi salah satu bentuk implementasi internasionalisasi pendidikan yang memberi kesempatan bagi mahasiswa UAD untuk belajar dan berinteraksi lintas budaya di tingkat global.
Murti mengungkapkan bahwa dirinya merasa sangat bahagia ketika dinyatakan lolos, meskipun ada sedikit rasa takut karena harus tinggal jauh dari Indonesia. “Tentunya bahagia namun sedikit takut juga, karena kampus tersebut berada jauh dari Indonesia dan saya belum pernah pergi atau tinggal di luar negeri,” ujarnya.
Perjalanan Murti menuju kelolosan tidaklah mudah. Ia menuturkan telah mempersiapkan seluruh persyaratan seleksi selama kurang lebih satu tahun, mulai dari penguasaan bahasa, administrasi, hingga proses wawancara. Ketekunan dan disiplin menjadi kunci utama hingga akhirnya dinyatakan lolos program bergengsi ini. Motivasi utamanya mengikuti program pertukaran pelajar tersebut adalah keinginannya untuk merasakan langsung budaya di negara maju dan menjadikannya sebagai pengalaman berharga ketika kembali ke Indonesia. “Saya ingin merasakan budaya lain yang jauh berbeda dari Indonesia dan menjadikannya sebagai pembelajaran,” tutur Murti.
Dalam proses pemilihan universitas tujuan, Murti memilih BUFS Korea Selatan karena ingin keluar dari zona nyaman dan mengenal lingkungan yang benar-benar berbeda dari budaya Melayu yang masih serumpun dengan Indonesia. Ia berharap, melalui program ini dirinya dapat memperluas jaringan internasional sekaligus memperdalam wawasan lintas budaya.
Keluarga dan teman-teman Murti turut bangga atas pencapaiannya. Menurutnya, dukungan keluarga menjadi faktor utama dalam proses perjuangan tersebut. “Banyak teman yang tidak menyangka saya bisa lolos, dan keluarga menjadi penyemangat terbesar saya untuk terus berusaha,” ungkapnya. Tantangan terbesar yang dihadapi Murti adalah mempelajari bahasa asing sebagai bentuk persiapan sebelum keberangkatan.
Selama menempuh studi di BUFS selama satu semester, Murti akan mendapatkan berbagai fasilitas dan tunjangan yang menunjang kegiatan akademik serta kehidupannya di sana. Setelah program berakhir, ia berencana melanjutkan kuliah di UAD dengan semangat baru dan membawa berbagai pengalaman internasional yang telah ia dapatkan.
Murti berharap pengalaman belajar di BUFS tidak hanya memperkaya wawasan akademik, tetapi juga menjadi bekal untuk berkontribusi di bidang Sastra Indonesia. “Dengan berada di Korea, saya bisa mengamati isu-isu sosial dan budaya yang dapat dikaji secara sastra maupun linguistik,” jelasnya. Sebagai penutup, Murti berpesan kepada mahasiswa lain agar berani mencoba kesempatan serupa. “Persiapkan diri dengan matang, terutama dalam kemampuan bahasa dan keberanian untuk memulai,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa informasi mengenai program AIMS ini pertama kali diperolehnya dari kakak tingkat, kemudian ia menindaklanjutinya dengan berkonsultasi kepada Ketua Program Studi dan mengikuti akun resmi @oiauad di Instagram untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. (wid/sus)
Sastra Indonesia UAD Adakan Workshop Penyusunan RPS

Bertempat di Meeting Room, Perpustakaan Universitas Ahmad Dahlan, Program Studi Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (Prodi Sasindo UAD) menyelenggarakan kegiatan penyusunan RPS bersama dengan seluruh pengajar mata kuliah di Semester Gasal Tahun Ajaran Akademik 2025/2026. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, yakni 9–10 September 2025, dengan agenda penjelasan teknis isian dalam RPS yang disesuaikan dengan aturan universitas, serta pendampingan pengisian bagi dosen-dosen pengampu mata kuliah.
Kegiatan ini tidak hanya dihadiri oleh dosen internal Prodi Sasindo, melainkan juga para dosen eksternal yang membantu pelaksanaan pengajaran diundang untuk turut serta dalam penyusunan RPS. Di hari pertama, Kaprodi Sastra Indonesia Intan Rawit Sapanti, S.Pd., M.A. membuka kegiatan yang diikuti dengan pengenalan mata kuliah-mata kuliah yang akan diajarkan pada Semester Gasal Tahun Ajaran Akademik 2025/2026.
Selain itu, Intan juga menjelaskan terkait dengan sistem pengisian (input) KRS secara daring melalui Portal UAD. “Kegiatan workshop ini akan berlangsung selama dua hari dengan harapan KRS telah siap sebelum perkuliahan dimulai,” ucapnya.
Penjelasan terkait RPS kemudian dilanjutkan oleh Penjamin Sistem Mutu Prodi (PSMP) Sastra Indonesia, yakni Dr. Tristanti Apriyani S.S., M.Hum. Tanti menekankan tentang pentingnya memasukkan rubrik penilaian dalam sistem KRS di Portal UAD. Selain rubrik, komponen penting lainnya adalah sumber referensi perkuliahan yang diharapkan dapat diperkaya dengan memasukkan artikel-artikel penelitian yang dimiliki dosen pengampu dan/atau dosen Prodi Sastra Indonesia. “Kalau ada buku juga boleh dimasukkan sebagai referensi,” tegasnya.
Kegiatan hari kedua diisi dengan melanjutkan pengisian KRS. Melalui workshop ini, dosen pengampu yang mengalami kesulitan atau kendala dalam memperbaiki dan menyusun baru RPS dapat langsung dibantu dalam pengisiannya oleh dosen-dosen internal Prodi Sastra Indonesia. (sus)

Universitas Ahmad Dahlan
Jl. Ahmad Yani (Ringroad Selatan) Tamanan Banguntapan Bantul Yogyakarta 55166
Telepon : (0274) 563515, 511830, 379418, 371120 Ext. –
Faximille : 0274-564604
Email : prodi[at]idlitera.uad.ac.id
Daftar di UAD dan kembangkan potensimu dengan banyak program yang bisa dipilih untuk calon mahasiswa
Informasi PMB
Universitas Ahmad Dahlan
Telp. (0274) 563515
Hotline PMB
S1 – 0853-8500-1960
S2 – 0878-3827-1960
