Angkat Isu Gender dan Seksisme, Mahasiswa Sasindo 2022 Berhasil Terbitkan Dua Artikel Sinta 4
Angkat Isu Gender dan Seksisme, Mahasiswa Sasindo 2022 Berhasil Terbitkan Dua Artikel Sinta 4
Mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2022, Tiara Mailani Abdillah, kembali menunjukkan capaian akademiknya melalui publikasi dua artikel ilmiah pada jurnal terindeks Sinta 4. Kedua artikel tersebut mengangkat isu gender dan seksisme yang masih dekat dengan kehidupan masyarakat. Artikel pertama berjudul “Representasi Perempuan dan Ideologi Patriarki dalam Cerpen Perempuan Pemuja Hujan Karya Rosida: Perspektif Sara Mills”, sedangkan artikel kedua berjudul “Sexism in @lambeturah’s Instagram Comments on Lisa Mariana: A Critical Discourse Analysis by Sara Mills”. Keduanya menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) Sara Mills untuk mengungkap bagaimana perempuan direpresentasikan dan ditempatkan dalam berbagai bentuk wacana.
Menurut Tiara, kedua publikasi tersebut sama-sama berangkat dari persoalan ketimpangan gender yang masih sering ditemukan, baik dalam karya sastra maupun kehidupan nyata. Artikel pertamanya mengkaji cerpen Perempuan Pemuja Hujan karya Rosida yang mengangkat isu kekerasan seksual terhadap perempuan. Melalui analisis posisi subjek, objek, dan pembaca, penelitian tersebut menunjukkan bagaimana ideologi patriarki memengaruhi representasi perempuan korban kekerasan seksual dalam teks sastra. Sementara itu, artikel keduanya berfokus pada bentuk-bentuk seksisme yang muncul dalam kolom komentar akun Instagram @lambeturah terkait isu perselingkuhan seorang figur publik. Penelitian tersebut menemukan adanya kecenderungan masyarakat untuk lebih banyak menyalahkan pihak perempuan, termasuk melalui komentar yang menyoroti aspek fisik, sementara pihak laki-laki cenderung dimaklumi.
Kedua artikel tersebut merupakan luaran dari mata kuliah yang berbeda. Artikel pertama berasal dari mata kuliah Analisis Wacana Kritis, sedangkan artikel kedua merupakan luaran mata kuliah Bahasa dan Gender. Ketertarikannya terhadap topik tersebut muncul karena isu gender masih sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi sering kali tidak disadari keberadaannya. Menurut Tiara, banyak bentuk ketimpangan gender yang dianggap biasa oleh masyarakat, padahal memiliki dampak yang besar terhadap perempuan. Melalui penelitian ini, ia ingin memahami lebih jauh bagaimana ketimpangan tersebut direpresentasikan dalam teks sastra maupun praktik komunikasi di media sosial.
Proses publikasi kedua artikel tersebut berlangsung cukup panjang meskipun dikerjakan dalam rentang waktu yang relatif singkat. Tiara harus menentukan jurnal tujuan yang sesuai dengan fokus penelitian, menyesuaikan target indeksasi jurnal, hingga melalui berbagai tahapan revisi bersama dosen pembimbing dan reviewer jurnal. Setelah melalui proses tersebut, kedua artikelnya berhasil memperoleh Letter of Acceptance (LoA) dan diterbitkan pada jurnal terindeks Sinta 4.
Tiara mengakui bahwa tantangan terbesar selama proses penelitian dan publikasi adalah membagi waktu di tengah kegiatan magang. Proses penyusunan dan revisi artikel berlangsung bersamaan dengan aktivitas magang sehingga ia harus mampu menjaga konsistensi di tengah kondisi fisik yang sering kali sudah lelah setelah menjalani aktivitas seharian. Selain itu, pada publikasi kedua, tantangan juga muncul dalam proses pengumpulan dan analisis data karena harus menelusuri serta mengkaji banyak komentar di media sosial yang relevan dengan fokus penelitian.
Di balik berbagai tantangan tersebut, Tiara memperoleh pengalaman berharga mengenai proses publikasi ilmiah. Ia mengaku banyak belajar tentang mekanisme penerbitan jurnal, mulai dari tahap penyusunan naskah hingga artikel resmi terbit. Dalam proses tersebut, dukungan dari keluarga menjadi sumber semangat utama. Selain itu, Angga Trio Sanjaya, S.Pd., M.Pd. sebagai dosen pembimbing turut berperan besar dengan memberikan arahan, masukan, dan revisi selama proses penelitian dan publikasi berlangsung.
Keberhasilan menerbitkan dua artikel pada jurnal Sinta 4 menjadi pencapaian yang sangat berkesan bagi Tiara. Ia mengaku bersyukur dan bangga karena sebelumnya hanya melihat keberhasilan teman-teman seangkatannya dalam mempublikasikan artikel ilmiah. Baginya, capaian tersebut menjadi pengalaman berharga yang membuktikan bahwa kerja keras, konsistensi, dan kemauan untuk belajar dapat menghasilkan hasil yang membanggakan.
Dari kedua publikasi tersebut, Tiara belajar pentingnya ketelitian dalam memilih topik dan pendekatan penelitian, serta memperbanyak referensi dari jurnal maupun buku agar analisis yang dilakukan menjadi lebih kuat. Ia juga mengaku menjadi lebih peka terhadap berbagai bentuk ketimpangan gender yang sering kali tidak disadari sebagai bagian dari kekerasan berbasis gender. Untuk menjaga konsistensi selama proses penulisan, Tiara selalu menetapkan target pada setiap tahapan, mulai dari penyusunan artikel, revisi bersama dosen, hingga proses submit ke jurnal.
Sebagai penutup, Tiara berpesan kepada mahasiswa yang ingin mulai menulis dan mempublikasikan karya ilmiah agar tidak takut untuk memulai. Menurutnya, pengalaman dan pengetahuan akan berkembang seiring proses belajar yang dijalani. “Yang paling penting adalah percaya diri dan memiliki kemauan untuk belajar. Jangan ragu bertanya kepada dosen pembimbing atau teman yang sudah berpengalaman, serta tetap konsisten dalam mengerjakan artikel hingga selesai,” pesannya. (put/sus)


