Wahyu Hidayati Raih Penghargaan Best Presentation dan Honorable Mention pada Lomba Esai Tingkat Internasional
Wahyu Hidayati Raih Penghargaan Best Presentation dan Honorable Mention pada Lomba Esai Tingkat Internasional
Program Studi Sastra Indonesia kembali mencatat prestasi membanggakan melalui Wahyu Hidayati, mahasiswa angkatan 2025, yang berhasil meraih Honorable 1 kategori Esai dan Juara 2 Presentasi pada kompetisi esai internasional bertema Social, Language & Cultural. Wahyu mengaku tidak menyangka dapat bersaing di level internasional karena awalnya ia hanya berniat menambah pengalaman dan relasi. Namun, proses yang ia jalani justru membawanya pada hasil yang melampaui ekspektasi.
Informasi mengenai lomba diperolehnya melalui unggahan Instagram kampus. Ketika melihat tema yang relevan dengan bidang minatnya, Wahyu langsung terdorong untuk mendaftar. Ia kemudian memilih topik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, khususnya isu perempuan dan ingin menunjukkan bagaimana sastra dapat menjadi wadah untuk membahas persoalan sosial secara kritis.
Proses penulisan esai dimulai dari membaca berbagai jurnal dan berdiskusi dengan kakak tingkat untuk memperkaya sudut pandang. Wahyu menyusun kerangka tulisan, lalu merevisi drafnya berkali-kali agar argumentasi lebih kuat dan alur lebih runtut. Tantangan terbesar baginya adalah menyeimbangkan gaya akademik dengan gaya penulisan khas mahasiswa sastra yang cenderung puitis. Ia harus belajar menulis dengan lebih lugas tanpa meninggalkan ciri khasnya.
Pada tahap presentasi, Wahyu tampil percaya diri dan berusaha menyampaikan materi dengan semangat. Ia tidak hanya membacakan isi esai, tetapi menghubungkannya dengan pengalaman pribadi sehingga penyampaiannya terasa lebih hidup. Latihan intensif pengucapan bahasa Inggris juga membantunya tampil lebih siap. Dukungan dosen pembimbing serta teman-teman sekelas menjadi faktor penting yang menguatkan mentalnya sejak awal proses hingga pengumuman hasil lomba.
Momen paling berkesan terjadi saat Wahyu membaca hasil pengumuman. Ia mengaku harus memastikan berkali-kali karena tidak percaya bisa meraih dua kategori penghargaan sekaligus. Melihat banyak teman sekelasnya juga meraih prestasi menambah rasa bangga dan kebersamaan tersendiri bagi mereka.
Pengalaman ini membuat Wahyu memahami bahwa menulis esai bukan hanya tentang menghasilkan karya, tetapi juga mengenai proses berpikir, menerima masukan, dan keberanian menyuarakan gagasan. Ia merasa lebih terbuka dengan berbagai perspektif baru dan lebih percaya diri untuk terus mengasah kemampuan menulis akademik.
“Jangan menunggu sempurna untuk mulai mencoba. Langkah pertama itu yang paling penting. Tulis apa yang kamu yakini, karena tulisan yang jujur selalu punya kekuatan,” pesannya. (put/sus)



