Mahasiswa Sastra Indonesia 2022 Terbitkan Artikel Dekonstruksi Cerpen “Istri Sempurna”
Mahasiswa Sastra Indonesia 2022 Terbitkan Artikel Dekonstruksi Cerpen “Istri Sempurna”
Mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2022, Indra Nurdiawan, berhasil menerbitkan artikel ilmiah berjudul “Beyond the Ideal: Deconstructing Perfection in Aveus Har’s Istri Sempurna”. Karya ilmiah ini hadir sebagai upaya membaca ulang makna “kesempurnaan” yang ditawarkan dalam cerpen tersebut, sekaligus menunjukkan bahwa konsep yang tampak ideal justru menyimpan kontradiksi di dalamnya. Dengan pendekatan dekonstruksi Jacques Derrida, Indra mengurai bagaimana gambaran “istri sempurna” dalam cerpen tidak serta-merta menghadirkan harmoni, melainkan menghadirkan kehampaan emosional dan relasi yang rapuh.
Ketertarikan Indra terhadap cerpen “Istri Sempurna” berangkat dari keunikan naratif yang dibangun Aveus Har. Cerpen tersebut menghadirkan figur gynoid sebuah robot berwujud perempuan yang dirancang sebagai sosok istri ideal. Bagi Indra, pilihan karakter seperti ini membuka banyak ruang tafsir dan pertanyaan filosofis tentang relasi manusia, tubuh, kendali, serta makna kesempurnaan itu sendiri. “Karyanya unik, dan ruang tafsirnya luas. Saya merasa ada banyak hal yang bisa digali,” ujarnya.
Artikel ini bermula dari tugas UAS yang kemudian berkembang menjadi naskah publikasi berkat dorongan dan bimbingan dosen, Dr. Tristanti Apriyani, S.S., M.Hum. Indra mengatakan dosen pembimbing banyak membantu dalam proses penerjemahan, revisi struktur, hingga ketepatan analisis agar tulisan tersebut layak diterbitkan. Selain dosen pembimbing, Indra juga berterima kasih kepada pihak-pihak lain yang telah mendukungnya. Dukungan inilah yang membuatnya yakin untuk melanjutkan tulisannya ke tingkat publikasi.
Proses penyusunan artikel tidak berjalan mudah. Tantangan terbesar yang dihadapi Indra adalah mendalami teori dekonstruksi Derrida yang terkenal kompleks. Ia harus membaca ulang literatur teori, menelaah beragam referensi, dan memastikan bahwa konsep-konsep kunci seperti binary opposition, trace, dan différance diterapkan secara tepat dalam analisis cerpen. Selain itu, fokus analisis yang hanya pada satu teks membuat Indra harus lebih teliti dan jeli dalam membaca detail naratif. “Data sedikit itu bukan berarti mudah. Justru kita harus benar-benar presisi,” ucapnya.
Proses publikasi pun memakan waktu cukup panjang. Sebagai penulis pemula, Indra merasakan bahwa tahap ini menjadi pengalaman tak terduga sekaligus sangat berharga. Ia belajar menyesuaikan naskah dengan standar jurnal, memperbaiki bagian-bagian yang kurang kuat, dan memahami bagaimana dinamika editorial bekerja. Salah satu momen paling berkesan justru datang setelah artikel terbit, ketika cerpen “Istri Sempurna” yang ia kaji mendapat respons langsung dari sang penulis, Aveus Har. Apresiasi tersebut menjadi bentuk penghargaan yang membuat Indra merasa usahanya terbayar.
Dari proses ini, Indra menuturkan bahwa ia belajar banyak hal baru, mulai dari teknik penulisan akademik, penyusunan metode, hingga mempertahankan ketepatan analisis. Selain untuk menambah wawasan, motivasi terbesarnya dalam menyelesaikan artikel ini juga terkait kebutuhan akademik, karena publikasi ilmiah dapat dikonversi sebagai salah satu syarat kelulusan. Walau begitu, setelah penerbitan artikel ini, Indra berencana fokus pada penulisan fiksi yang sejak awal sudah menjadi minat pribadinya.
Sebagai penutup, Indra menyampaikan pesan untuk teman-teman mahasiswa yang sedang berproses dalam menulis atau sedang berada di fase penuh keraguan. “Menulis membuat segala hal jadi bermakna. Saat banyak hal terasa mengganggu, justru di situlah waktu terbaik untuk menulis,” ucapnya. (put/sus)










