Mahasiswa Sastra Indonesia Raih Honorable Mention Presentation pada Lomba Esai Internasional
Mahasiswa Sastra Indonesia Raih Honorable Mention Presentation pada Lomba Esai Internasional
Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia kembali menorehkan prestasi membanggakan. Maizatu Deka Saufia berhasil meraih Honorable Mention 2 Presentation dalam kompetisi esai internasional yang pertama kali diikutinya. Meski sempat diliputi rasa takut karena baru pertama terjun ke ajang tingkat internasional, ia mengaku perlahan mulai percaya diri berkat dukungan dan bimbingan dari kakak pembimbing yang terus memberikan motivasi.
Informasi mengenai lomba ia peroleh dari grup kampus, dan tanpa ragu ia memutuskan mengikuti ajang tersebut karena ingin menambah pengalaman baru di bidang yang lebih luas. Dalam esainya, Deka mengangkat isu terkait rendahnya apresiasi terhadap puisi, terutama di kalangan muda. Ia melihat fenomena tersebut langsung di lingkungan sekitarnya sehingga merasa penting untuk membahas alasan di balik menurunnya minat tersebut serta upaya agar puisi kembali diminati.
Proses penulisan dimulai dari pengamatan sederhana, dilanjutkan dengan analisis penyebab rendahnya minat terhadap puisi, serta pengayaan referensi melalui jurnal dan literatur literasi sastra. Tantangan terbesar muncul ketika menyusun bagian analisis dan hasil. Namun dengan bimbingan intensif, ia berhasil menyelesaikan naskah esai hingga siap dikirimkan ke perlombaan.
Tahap presentasi menjadi pengalaman penuh perjuangan. Deka menyiapkan materi dengan membuat PowerPoint, mendalami isi esai, hingga memilih waktu tengah malam untuk merekam presentasi agar suara lebih jernih dan minim gangguan. Ia bahkan membuat dua versi video presentasi untuk memastikan hasil terbaik yang dikirim ke juri. Meski merasa kemampuan bahasa Inggrisnya belum maksimal, ia tetap berusaha tenang dan fokus sepanjang proses.
Keberhasilannya mencapai Honorable Mention 2 Presentation menjadi kejutan besar. Deka mengaku terharu karena tidak menyangka dapat meraih penghargaan, terlebih mengingat berbagai tantangan, termasuk kendala jaringan internet dan minimnya pengalaman berbicara dalam bahasa Inggris. Dukungan orang tua, keluarga, teman-teman, serta perjalanan panjang yang penuh kegagalan menjadi sumber semangat yang membuatnya bertahan hingga akhir.
Saat namanya tercantum dalam daftar pemenang, ia mengaku tak mampu menahan air mata karena rasa syukur dan bangga. Pengalaman ini mengajarkannya untuk lebih peka terhadap lingkungan, lebih berani mengangkat ide sendiri, dan lebih percaya diri dalam mempresentasikan gagasan di depan publik.
“Aku belajar bahwa keberanian itu bukan hanya soal berani tampil, tapi juga berani percaya pada gagasan sendiri. Dari proses ini, aku sadar bahwa ide sederhana pun bisa jadi sesuatu yang besar kalau kita mau mencoba,” ungkapnya. (put/sus)


