Mahasiswa Sastra Indonesia Raih Best Presentation di Kompetisi Esai Internasional
Mahasiswa Sastra Indonesia Raih Best Presentation di Kompetisi Esai Internasional
Mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2025, Faishol Adiswara Salman Syauqi, berhasil meraih penghargaan Best Presentation dalam kompetisi esai yang diselenggarakan oleh Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Kompetisi ini menjadi pengalaman pertama bagi Faishol, sekaligus kesempatan berharga untuk mengasah kemampuan menulis dan presentasi di tingkat internasional.
Faishol menceritakan bahwa lomba ini terasa sangat menarik karena seluruh peserta mendapatkan pelatihan terlebih dahulu sebelum mengikuti kompetisi. Pelatihan tersebut membantu peserta yang sebelumnya belum terbiasa menulis esai agar memahami teknik dan tata cara penulisan dengan baik. Informasi terkait perlombaan ia dapatkan langsung dari Bimawa melalui program Pengembangan Karakter dan Kesejahteraan, mengingat ia merupakan penerima beasiswa.
Mengangkat tema mengenai bahasa dan budaya yang mulai tergerus oleh pengaruh bahasa asing, Faishol melakukan pencarian data secara mandiri di lingkungan sekitar maupun daerah lain yang mengalami gejala serupa. Menurutnya, isu ini sangat relevan dengan kondisi sosial saat ini sehingga penting untuk diangkat dalam karya ilmiah.
Dalam proses persiapan, tantangan terbesar justru datang dari mental. Meskipun tidak berhadapan langsung dengan juri, Faishol harus menyampaikan presentasi dalam bahasa Inggris melalui kamera sebuah pengalaman yang membutuhkan keberanian dan kepercayaan diri ekstra. Ia mengakui bahwa kemampuan berbicara bahasa Inggris masih menjadi tantangan tersendiri. Sehingga saat pengumuman dirinya masuk Best Presentation menjadi kejutan yang sangat membanggakan.
Faishol menyampaikan bahwa dukungan dari mentor serta pengingat terkait tenggat waktu perlombaan sangat membantunya dalam proses ini. Pengalaman pertamanya mengikuti lomba di UAD menjadi kenangan berharga sekaligus motivasi untuk terus mengembangkan kemampuan akademik dan kreativitas di masa depan.
“Dari lomba ini saya belajar bahwa menyampaikan ide dengan bahasa asing itu penting karena audiens kita tidak hanya berasal dari Indonesia. Meski sulit, pengalaman ini membuat saya semakin percaya diri,” ujarnya. (put/sus)


