Mahasiswa Sasindo UAD Raih Juara di Lomba Esai Internasional dengan Topik Bahasa dan Identitas Gen Z
Mahasiswa Sasindo UAD Raih Juara di Lomba Esai Internasional dengan Topik Bahasa dan Identitas Gen Z
Mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2025, Andhin Fuadhah Rahmawati, mencatat prestasi membanggakan dengan meraih Juara 2 Esai Internasional pada kompetisi yang mengangkat tema Social, Language & Cultural. Bagi Andhin, pengalaman mengikuti lomba internasional ini menjadi tantangan besar sekaligus proses pembelajaran yang berharga. Ia mengaku kewalahan di awal dan merasa takut tidak dapat menyelesaikan esai dengan baik. Namun, kerja keras dan kegigihan membawanya pada pencapaian yang tidak ia duga.
Andhin pertama kali mengetahui informasi perlombaan melalui grup WhatsApp angkatan. Ia kemudian memilih topik yang relevan dengan kehidupan Gen Z, khususnya fenomena code-mixing di media sosial. Esainya berjudul “Blending Languages, Building Identity: How Code-Mixing Redefines Gen Z Communication in the Digital Era”. Menurutnya, penggunaan bahasa gaul dan campuran semakin masif sehingga perlu dikaji dari sudut pandang identitas budaya sekaligus kekhawatiran terhadap memudarnya kaidah bahasa Indonesia formal.
Proses penulisan esai berlangsung panjang dan penuh tantangan. Andhin memulai dengan mencari ide yang relevan dan menyusun kerangka tulisan. Ia menuliskan semua gagasan tanpa memikirkan kesempurnaan, kemudian merevisinya berkali-kali untuk memperkuat argumen, memperbaiki struktur, dan memastikan teknis penulisan sesuai aturan lomba. Kesulitan terbesar baginya adalah mengubah ide abstrak di kepala menjadi paragraf yang efektif, ditambah beban tugas kuliah yang membuat fokusnya sering terpecah.
Selama proses kompetisi, pengalaman tak terduga justru datang saat riset. Andhin menemukan satu fakta kecil yang mengubah total argumen esainya sehingga ia harus merombak banyak bagian. Meski membuat stres, ia menilai hal itu sebagai pengalaman berharga yang memperkaya cara berpikirnya. Dukungan terbesar datang dari ibu, kakak, teman dekat, serta kakak pendamping perlombaan yang selalu memotivasinya untuk terus melangkah.
Ketika pengumuman tiba, Andhin merasakan campuran antara syok, syukur, dan rasa bangga yang sulit dijelaskan. Ia mengingat detik-detik mencari namanya di daftar pemenang dengan jantung berdebar. Baginya, kemenangan ini bukan sekadar tentang gelar juara, tetapi juga validasi atas proses panjang yang penuh keraguan, begadang, dan tekad untuk tidak menyerah.
Sebagai pesan penutup untuk mahasiswa lain yang ingin mencoba menulis atau mengikuti lomba esai, Andhin berpesan, “Jangan biarkan ketidaksempurnaan menghentikan kalian untuk memulai. Kemenangan tidak datang dari ide yang langsung sempurna, tetapi dari ketekunan menulis draft pertama dan keberanian untuk merevisinya. Temukan topik yang membuat kalian semangat, tulis, revisi, dan terus belajar. Kerja keras pasti membuahkan hasil.” (put/sus)



