Dari Rasa Tidak Yakin Menjadi Nyata: Perjalanan Untung Nurhidayat, Mahasiswa UAD Lolos Program AIMS ke Korea Selatan
Dari Rasa Tidak Yakin Menjadi Nyata: Perjalanan Untung Nurhidayat, Mahasiswa UAD Lolos Program AIMS ke Korea Selatan
Menjadi salah satu peserta program ASEAN International Mobility for Students (AIMS) merupakan kesempatan berharga yang tidak datang dua kali. Namun, bagi Untung Nurhidayat, mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Ahmad Dahlan (UAD), perjalanan menuju keberangkatan ke Busan University of Foreign Studies (BUFS), Korea Selatan, justru dimulai dari rasa tidak yakin dan kebingungan.
Untung mengaku tidak menyangka dapat lolos seleksi program AIMS. Awalnya, ia hanya mencoba mendaftar tanpa ekspektasi besar. Keyakinan baru muncul setelah mengikuti kelas bahasa Korea yang difasilitasi oleh kampus sebagai bagian dari persiapan keberangkatan. “Saat dinyatakan lolos, perasaan saya justru bingung dan tidak percaya. Awalnya saya hanya mencoba mendaftar tanpa ekspektasi apa pun,” ungkap Untung.
Dari segi persiapan, Untung mengakui tidak terlalu matang karena sejak awal merasa peluangnya kecil. Persiapan utama yang dilakukan hanya dari sisi finansial. Tantangan terbesar justru datang dari persyaratan TOEFL minimal 500 yang membuatnya harus mengikuti tes beberapa kali hingga akhirnya mencapai nilai yang ditentukan. Berkat ketekunan dan dukungan dari dosen pembimbing, ia berhasil lolos dan memenuhi seluruh syarat administrasi untuk mengikuti program pertukaran pelajar selama empat bulan di Korea Selatan.
Motivasi utamanya mengikuti program AIMS adalah untuk menambah wawasan, memperluas pengalaman akademik, dan memperkaya portofolio pribadi. Ia juga melihat program ini sebagai peluang untuk mengenal budaya baru dan beradaptasi dengan lingkungan internasional. Selain itu, BUFS menjadi satu-satunya universitas mitra yang tersedia bagi mahasiswa Sastra Indonesia dalam program AIMS tahun ini.
Selama menjalani program, Untung berharap dapat mengikuti seluruh perkuliahan dengan baik dan menjadi pribadi yang lebih terbuka terhadap perbedaan budaya. Setelah program berakhir, ia berencana untuk melanjutkan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan menyelesaikan skripsi.
“Manfaat terbesar dari program ini adalah bisa mengenal budaya negara lain sekaligus menumbuhkan rasa nasionalisme. Dari situ, saya jadi bisa melihat perbandingan antara Indonesia dan Korea,” ujarnya.
Sebagai pesan bagi mahasiswa lain yang ingin mengikuti jejaknya, Untung menekankan pentingnya persiapan mental, finansial, serta kemampuan bahasa. Menurutnya, kesiapan yang matang akan sangat membantu proses adaptasi di luar negeri. Ia juga menyarankan agar mahasiswa aktif mencari informasi melalui dosen, media sosial kampus, dan grup fakultas karena kesempatan seperti ini sangat berharga dan tidak selalu datang dua kali. (wid/sus)



