Mahasiswa Sasindo Buktikan Kegagalan Bukan Akhir, Raih Dua Penghargaan di Kompetisi Esai Internasional
Mahasiswa Sasindo Buktikan Kegagalan Bukan Akhir, Raih Dua Penghargaan di Kompetisi Esai Internasional

Mahasiswa Sasindo Buktikan Kegagalan Bukan Akhir, Raih Dua Penghargaan di Kompetisi Esai Internasional

Mahasiswi Sastra Indonesia 2022 Terbitkan Artikel Linguistik Forensik di Jurnal Nasional

Zaqia Nur Anisa, mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2022, berhasil menerbitkan artikel ilmiah di jurnal terindeks Sinta 4. Artikel berjudul “Analisis Linguistik Forensik terhadap Profiling Teddy Minahasa dalam Kasus Narkotika” ini membahas bagaimana bahasa dapat digunakan sebagai alat identifikasi dan pembuktian dalam ranah hukum. Melalui pendekatan linguistik forensik dan teori variasi bahasa dari William Labov, Zaqia meneliti dialek, idiolek, serta register yang digunakan oleh Teddy Minahasa. Penelitiannya menunjukkan bahwa pilihan bahasa seseorang dapat mencerminkan identitas sosial, geografis, dan profesinya, sekaligus memperlihatkan bahwa bahasa memiliki fungsi lebih dari sekadar sarana komunikasi.
Ketertarikannya terhadap topik linguistik forensik berawal dari keingintahuan terhadap cabang ilmu yang masih jarang dikaji di Indonesia. Menurutnya, kasus Teddy Minahasa menawarkan perspektif yang menarik karena melibatkan figur publik dan aparat penegak hukum, sehingga membuka ruang analisis tentang kekuasaan, moralitas, dan representasi sosial melalui bahasa. “Saya ingin menunjukkan bahwa bahasa bisa digunakan sebagai alat analisis yang berperan penting dalam konteks hukum,” jelasnya. Pandangan itu menjadi dasar bagi Zaqia untuk memperluas pemahaman tentang bagaimana bahasa bekerja di ranah sosial yang kompleks.
Proses penulisan artikelnya dimulai dari tugas UAS untuk mata kuliah yang ia ambil pada semester sebelumnya. Naskah tersebut kemudian direvisi berdasarkan masukan dosen hingga siap untuk diterbitkan. Namun, perjalanan menuju publikasi tidak berjalan mulus. Ia sempat menunda proses revisi karena harus membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan. Tantangan semakin berat ketika ia kesulitan mencari jurnal yang masih membuka kuota penerbitan di akhir tahun. Meski sempat pesimis, Zaqia tidak menyerah. Usahanya akhirnya berbuah manis ketika satu jurnal masih membuka penerimaan dan menyatakan artikelnya diterima untuk diterbitkan. “Rasanya tidak menyangka, karena awalnya artikel ini hanya tugas kuliah yang kemudian berkembang menjadi karya ilmiah yang benar-benar terbit,” ujarnya mengenang.
Dalam prosesnya, Zaqia lebih banyak mengandalkan dorongan dari diri sendiri untuk tetap bersemangat menyelesaikan artikel tersebut. Ia belajar menata waktu agar revisi bisa diselesaikan di tengah padatnya aktivitas. Meski begitu, ia tetap mendapat dukungan dari keluarga, teman-teman, serta orang-orang terdekatnya. Dukungan itu menjadi kekuatan yang menjaga semangatnya hingga artikelnya berhasil terbit di jurnal nasional. Ia bahkan menyebut kehadiran kucing peliharaannya, Cumi, sebagai teman penenang yang menemaninya saat menulis dan menambah kenyamanan selama proses revisi berlangsung.
Keberhasilan publikasi ini menjadi pengalaman berharga bagi Zaqia. Ia merasa bangga dan bersyukur karena usahanya akhirnya terbayar lunas. Dari pengalaman ini, ia belajar pentingnya konsistensi, kesabaran, dan kepercayaan diri. Baginya, publikasi bukan semata hasil, tetapi juga proses yang membentuk cara berpikir dan disiplin diri. “Kalau punya ide penelitian, jangan ragu untuk mencoba menerbitkannya. Setiap tulisan punya nilai dan bisa memberi dampak besar di kemudian hari,” pesannya untuk mahasiswa lain yang ingin menapaki jejak serupa. (put/sus)
Mahasiswa Sastra Indonesia UAD Kembali Terbitkan Artikel Ilmiah Tingkat Nasional

Bahasa bukan hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga cerminan budaya dan cara berpikir masyarakatnya. Pandangan itu terasa begitu kuat dalam artikel karya Aniqmatul Latifah, mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan angkatan 2022, yang baru saja memublikasikan artikelnya di jurnal terakreditasi Sinta 4. Dalam tulisannya, Aniq meneliti penggunaan pronomina dalam bahasa Jawa seperti genduk, denok, tole, dan nang. Empat kata sederhana ini ternyata menyimpan makna sosial dan emosional yang kompleks, mencerminkan hubungan antarpersonal, serta nilai budaya yang hidup di masyarakat Jawa.
Dalam wawancara, Aniqmatul menjelaskan bahwa ketertarikannya pada topik tersebut berawal dari kebiasaannya mendengar dan menggunakan pronomina itu dalam percakapan sehari-hari. Ia merasa kata-kata seperti genduk atau tole bukan hanya sekadar sapaan, melainkan juga menandai keakraban, kasih sayang, bahkan hierarki sosial tertentu. “Aku sering banget dengar kata-kata itu di rumah dan lingkungan sekitar, dan ternyata masing-masing punya konteks dan tingkatan yang berbeda,” ujarnya.
Proses penulisan artikelnya pun cukup panjang. Aniqmatul mengumpulkan data dari berbagai informan yang berbeda daerah, usia, dan profesi, kemudian menganalisisnya secara kualitatif dengan pendekatan antropolinguistik serta teori hipotesis Sapir-Whorf. Ia mengaku tantangan terbesar adalah memahami makna kontekstual dari setiap pronomina yang bisa sangat bervariasi tergantung situasi dan hubungan sosial antarpenutur. Selain itu, menjaga konsistensi menulis di tengah kesibukan kuliah juga menjadi hal yang tak mudah. “Prosesnya lama karena aku pengen benar-benar paham maknanya, bukan cuma di permukaan,” katanya.
Selama proses penelitian dan penulisan, Aniqmatul justru menemukan hal menarik yang tidak ia duga sebelumnya bahwa tiap daerah memiliki cara unik dalam menggunakan pronomina tersebut, dan hal itu merefleksikan kekayaan budaya Jawa yang begitu beragam. Ketika artikelnya akhirnya resmi terbit, ia mengaku merasa lega dan bahagia, meskipun sempat diliputi rasa takut jika masih ada kekeliruan dalam tulisannya. Namun di balik itu semua, publikasi ini menjadi pengalaman berharga sekaligus motivasi besar baginya untuk terus menulis.
“Aku belajar banyak dari penelitian ini. Ternyata kata yang sering kita dengar itu punya lapisan makna yang luas dan menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa memandang relasi sosial,” ujarnya. Setelah publikasi pertamanya ini, Aniqmatul berencana melanjutkan penulisan draft artikel lain yang sudah sempat ia kerjakan sebelumnya. Ia berharap dapat terus konsisten menulis dan meneliti bahasa dari sisi budaya. Pesannya untuk mahasiswa lain pun sederhana tetapi kuat, “Menulis itu soal keberanian dan konsistensi. Progres sekecil apapun tetap berarti, yang penting jangan berhenti di tengah jalan.” (put/sus)
Merangkai Makna, Menyuarakan Kata dalam Cerita di Balik Dua Kemenangan Baca Puisi

Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (Sasindo UAD). Siti Aulia Nurhanifah, mahasiswa angkatan 2023, sukses menorehkan dua kemenangan dalam lomba baca puisi yang digelar berdekatan. Kesuksesan yang didapat berkat ketekunannya menapaki dunia sastra, terutama dalam seni membaca dan memaknai kata.
Perjalanannya di dunia baca puisi bermula dari dorongan sang mentor di komunitas “Jejak Imaji”. Dari ajakan sederhana untuk membacakan puisi, Aulia perlahan menemukan ruang berekspresi yang membawanya pada panggung-panggung lomba. Ia mulai berani tampil, memaknai setiap larik, dan menjadikan puisi sebagai media untuk memahami diri sekaligus berbagi rasa dengan pendengar.
Semangat untuk berprestasi juga menjadi motivasi tersendiri baginya. Aulia mengakui bahwa awalnya ia belum memiliki banyak pengalaman atau pencapaian, sehingga seni baca puisi menjadi cara baginya untuk membuktikan kemampuan diri. Upaya itu tentu tidak datang tanpa hambatan. Tantangan terbesar justru berasal dari dirinya sendiri melawan rasa malas dan menjaga komitmen untuk terus berlatih.
Ia meyakini bahwa performa yang kuat di atas panggung hanya bisa lahir dari proses latihan yang konsisten. Adapun dalam memilih puisi yang akan dibawakan, Aulia lebih mengutamakan kedekatan makna. Ia memilih teks yang dapat ia pahami secara emosional agar mudah diinterpretasikan. Baginya, membaca puisi bukan sekadar menyuarakan kata, melainkan menghidupkan makna di dalamnya. Setiap larik ia hubungkan dengan pengalaman pribadi maupun pengetahuan yang dimiliki, sehingga puisi terasa lebih hidup saat dibacakan.
Kemenangan yang diraihnya menjadi momen yang tak terlupakan. Rasa bahagia bercampur dengan ketidakpercayaan, mengingat ia sempat meragukan dirinya sendiri. Dukungan dari mentor “Jejak Imaji”, Mas Bayu Aji, menjadi salah satu sumber semangat dan inspirasi yang membentuk karakter Aulia di dunia sastra.
Dua gelar juara yang diraih tidak hanya menjadi bukti kemampuan, tetapi juga refleksi penting tentang kepercayaan pada diri sendiri. Dari pengalamannya, Aulia belajar bahwa keyakinan dan kerja keras adalah kunci utama untuk terus berkembang. Ia pun berencana melanjutkan langkahnya di berbagai kompetisi baca puisi lain sebagai bentuk konsistensi terhadap renjana (passion) yang ia jalani.
Sebagai penutup, Aulia membagikan pesan sederhana bagi teman-teman yang ingin berprestasi di bidang seni baca puisi “Percaya diri, dan yakin dengan diri sendiri. Kita bisa kalau kita mau berusaha. Just do it,” ujarnya. (put/sus)
Mahasiswa UAD Teliti Konsep Feminine Mystique dalam Novel Home Sweet Loan

Sebuah penelitian menarik tentang representasi feminine mystique dalam novel Home Sweet Loan karya Almira Bastari berhasil ditulis dan dipublikasikan oleh Nina Agustina, mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2022. Penelitian ini lahir dari ketertarikan penulis setelah membaca novel tersebut dan menyadari bahwa tema feminine mystique sangat relevan untuk dieksplorasi lebih dalam.
Penulis mengungkapkan bahwa ide penelitian ini muncul ketika ia mendalami jalan cerita novel dan menemukan banyak potret yang sejalan dengan konsep yang diperkenalkan Betty Friedan pada 1963 tersebut. “Saya tertarik untuk mengeksplorasi bagaimana konsep feminine mystique digambarkan dalam novel tersebut,” ungkapnya.
Proses penulisan jurnal ini memakan waktu sekitar dua bulan, mulai dari pengumpulan data hingga publikasi. Langkah pertama yang dilakukan adalah membaca novel secara berulang, menganalisis alur cerita, serta melakukan tinjauan literatur terkait konsep feminine mystique dalam kajian sastra. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dipilih karena mampu mengungkap makna, nilai, dan representasi yang terkandung dalam karya sastra secara mendalam. Penulis juga memusatkan perhatian pada data berupa kata-kata, narasi, dan konteks sosial budaya yang melingkupi karya tersebut.
Referensi pendukung dikumpulkan melalui Google Scholar dan sumber akademis lainnya, serta dikelola menggunakan aplikasi Mendeley. Meski begitu, penulis mengaku sempat mengalami kesulitan dalam menyusun kerangka tulisan. “Saya harus melakukan outline dan revisi beberapa kali agar ide-ide saya dapat tersusun dengan jelas dan logis,” ujarnya.
Dosen pembimbing, Dr. Tristanti Apriyani, M.Hum. menjadi salah satu pilar penting dalam keberhasilan penelitian ini. Beliau memberikan arahan, masukan konstruktif, serta membantu penulis memahami konsep feminine mystique dan aplikasinya dalam analisis sastra. Setelah melalui tahap reviu, penulis juga melakukan revisi secara teliti agar seluruh masukan dapat terimplementasi dengan baik. Selain dukungan akademis, penulis mendapat semangat dari keluarga, teman, dan pihak kampus yang menyediakan fasilitas penelitian. Menurutnya, kunci utama menyelesaikan jurnal tepat waktu dan berkualitas adalah memiliki rencana terstruktur, disiplin, komunikasi efektif dengan pembimbing, serta motivasi yang konsisten.
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi kontribusi akademis dalam mengkaji representasi perempuan di karya sastra populer Indonesia, sekaligus menginspirasi mahasiswa lain untuk mengangkat tema-tema kritis dalam penelitian mereka. (wid/sus)

Universitas Ahmad Dahlan
Jl. Ahmad Yani (Ringroad Selatan) Tamanan Banguntapan Bantul Yogyakarta 55166
Telepon : (0274) 563515, 511830, 379418, 371120 Ext. –
Faximille : 0274-564604
Email : prodi[at]idlitera.uad.ac.id
Daftar di UAD dan kembangkan potensimu dengan banyak program yang bisa dipilih untuk calon mahasiswa
Informasi PMB
Universitas Ahmad Dahlan
Telp. (0274) 563515
Hotline PMB
S1 – 0853-8500-1960
S2 – 0878-3827-1960
