Agustin Rahayu Raih Juara 1 Esai dan Presentasi di Ajang Internasional Ahmad Dahlan International Seminar #3 BIMAWA UAD
Agustin Rahayu Raih Juara 1 Esai dan Presentasi di Ajang Internasional Ahmad Dahlan International Seminar #3 BIMAWA UAD

Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia angkatan 2024, Agustin Rahayu, berhasil meraih Juara 1 Lomba Esai dan Juara 1 Presentasi dalam ajang Ahmad Dahlan International Seminar #3 tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Biro Kemahasiswaan dan Alumni (Bimawa) Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Kegiatan ini berlangsung pada 26–28 Oktober 2025 dan pengumuman pemenang dilakukan pada 29 Oktober 2025.
Agustin mengetahui informasi lomba ini dari unggahan Bimawa. Ia tertarik mengikuti karena melihat fenomena sosial di Yogyakarta yang menurutnya belum sepenuhnya aman dari tindak kejahatan. Ide esainya berangkat dari cerita seorang teman yang pernah bertemu sekelompok anak muda membawa senjata tajam di kawasan selatan Yogyakarta pada dini hari. Pengalaman itu menggugah Agustin untuk menyoroti isu geng jalanan dan pentingnya keamanan kota.
Dalam esainya, Agustin menyoroti kondisi Yogyakarta yang sering dipandang sebagai kota pelajar dan budaya, namun di sisi lain masih menyimpan persoalan sosial yang perlu diatasi bersama. Ia menulis dengan tujuan membuka kesadaran masyarakat, terutama mahasiswa, agar tidak menutup mata terhadap realitas sosial di sekitarnya. “Teman-teman saya dari luar Jogja banyak yang ingin tinggal di sini selamanya karena melihat sisi baik Jogja, sebagaimana citra ‘Jogja Istimewa’. Tapi di balik itu, masih ada hal-hal yang perlu dibenahi,” ujarnya.
Tantangan terbesar yang dihadapinya adalah merumuskan solusi untuk mengatasi masalah geng dan tindak kejahatan tersebut. Ia merasa bahwa upaya tersebut tidak bisa diselesaikan secara individual, melainkan membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. Sementara dalam tahap presentasi, Agustin menonjol melalui tampilan dan bahasa penyampaian. “Tampilan PPT saya hanya memuat poin-poin utama, tapi saat presentasi saya jelaskan secara rinci,” tuturnya.
Kemenangan ganda yang diraih menjadi pengalaman yang tidak terduga sekaligus membanggakan bagi Agustin. Ia bersyukur atas dukungan dua temannya yang selalu menyemangati selama proses penulisan. “Selama menulis, ada dua teman saya yang paling berperan (satu laki-laki dan satu perempuan). Mereka banyak memberi dorongan dan membantu saya tetap fokus sampai selesai,” ungkapnya. Dukungan itu menjadi dorongan besar hingga akhirnya ia berhasil menorehkan prestasi ganda di tingkat internasional.
Agustin mengaku sangat bahagia dan bangga dengan hasil yang diraih, terlebih karena topik yang awalnya muncul dari obrolan santai bisa berkembang menjadi gagasan penting bagi masyarakat Yogyakarta. Dari pengalaman tersebut, ia belajar banyak hal, terutama tentang struktur penulisan esai yang baik melalui pelatihan dan praktik langsung. Ia berpesan kepada mahasiswa lain agar tidak ragu mencoba berbagai kesempatan yang datang. “Menang atau kalah itu biasa. Yang terpenting adalah pengalaman yang kita dapatkan,” pesannya menutup wawancara. (put/sus)

