Mahasiswa Sasindo UAD Publikasikan Artikel tentang Semiotika Sagu dalam Puisi
Mahasiswa Sasindo UAD Publikasikan Artikel tentang Semiotika Sagu dalam Puisi
Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia (Prodi Sasindo) angkatan 2023, Dzykry Agis Sarodi, berhasil memublikasikan artikel ilmiah yang mengangkat representasi sagu dalam sebuah puisi. Artikel tersebut membahas alasan sagu digunakan sebagai elemen yang menyatukan konflik horizontal yang terjadi dalam puisi. Dalam kajiannya, Dzykry menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes untuk melihat tanda dan makna yang terdapat dalam representasi sagu.
Artikel yang disusun Dzykry merupakan luaran dari mata kuliah Antropologi dan Sastra Kuliner. Ketertarikannya berawal dari masih sedikitnya penelitian yang membahas makanan dalam karya sastra, khususnya puisi. Menurutnya, kajian mengenai makanan dalam karya sastra masih lebih banyak ditemukan pada bentuk karya sastra lainnya. Sagu menjadi menarik karena dalam puisi tersebut tidak hanya hadir sebagai makanan, tetapi juga direpresentasikan sebagai penghubung berbagai golongan, ras, dan agama.
Dalam proses penulisan, Dzykry mengaku tantangan terbesarnya adalah menjaga semangat agar tetap konsisten hingga artikel selesai. Ia mengalami berbagai hal yang membuat semangat menulisnya naik dan turun, termasuk menghadapi berbagai persoalan selama proses pengerjaan. Namun dari proses tersebut, ia belajar bahwa sebesar apa pun tantangan yang dihadapi, semuanya dapat dilewati dengan kesabaran dan kemampuan untuk menghadapinya dengan kepala dingin.
Dukungan dari berbagai pihak juga menjadi bagian penting selama proses penulisan. Dzykry menyampaikan bahwa keluarga, khususnya kedua orang tuanya, menjadi sosok yang paling berjasa karena terus memberikan dukungan material maupun nonmaterial. Selain itu, Dr. Tristanti Apriyani, S.S., M.Hum. turut memberikan arahan dan bimbingan selama proses penulisan hingga artikel tersebut berhasil diterbitkan. Dukungan dari teman-teman yang selalu membantu menjaga kondisi mentalnya juga menjadi salah satu sumber semangat selama proses tersebut.
Saat mengetahui artikelnya berhasil terbit, Dzykry merasa senang setelah melewati berbagai proses dan tantangan. Ia juga memperoleh banyak pembelajaran, tidak hanya mengenai semiotika, tetapi juga tentang bagaimana teori yang dipelajari dapat dipahami dan diinternalisasikan dalam kehidupan sehingga tidak berhenti sebagai pengetahuan semata. Baginya, menjaga semangat menulis juga berkaitan dengan kemampuan mengubah pola pikir, menikmati proses, serta menyeimbangkan waktu antara menulis dan menikmati kehidupan.
Ke depan, Dzykry memiliki rencana untuk kembali menulis, baik artikel maupun buku. Ia juga berpesan kepada mahasiswa yang ingin mulai menulis agar tidak membandingkan perjalanan mereka dengan orang lain. Setiap orang memiliki jalan dan prosesnya masing-masing. Karena itu, ia mengingatkan untuk tetap menjalani proses dengan baik dan tidak lupa menikmati setiap tahapnya. “Jangan lupa bahagia” menjadi pesan sederhana yang ingin ia sampaikan kepada teman-teman yang sedang berproses. (put/sus)


