Mahasiswa Sasindo Raih Juara 3 Esai Internasional dan Presentasi
Mahasiswa Sasindo Raih Juara 3 Esai Internasional dan Presentasi
Mahasiswi Sastra Indonesia angkatan 2022, Rizkyana Iswahyuni, berhasil menembus daftar top 3 dalam sebuah ajang tahunan setelah menyajikan versi alternatif dari topik skripsinya yang membahas kekaburan moralitas lewat lensa Immanuel Kant. Rizkyana bercerita bahwa tujuannya ikut lomba adalah untuk menuangkan gagasan skripsi ke dalam bentuk lain, sebuah cara untuk meredakan kebingungan intelektual yang muncul saat menulis skripsi dan berharap audiens bisa memahami ide-idenya meski materi dipadatkan.
Saat presentasi, Rizkyana mengaku tidak melakukan strategi khusus untuk “menang”; ia hanya menjaga kepercayaan diri dan berusaha menyampaikan inti gagasan dengan jelas. Tantangan terbesar menurutnya adalah merangkum pembahasan filsafat yang kompleks menjadi paparan singkat tanpa kehilangan esensi sebuah pekerjaan yang membuat materi terasa sedikit membingungkan saat dipadatkan. Meski begitu, hasilnya mengejutkan. Topik yang ia rasa “sedikit aneh” itu justru mendapat tempat di antara pemenang.
Dukungan datang dari lingkungan magang dan dosen pengampu metodologi penelitian yang terus memotivasi kadang “menampar semangat” agar Rizkyana tetap menulis, meski hanya satu atau dua baris sehari. Ia menyebut rekan-rekan di tempat magang sebagai penyokong penting selama proses, membantu menjaga ritme kerja dan perasaan agar analisis tidak meluas ke arah yang tidak terkontrol. Ketiadaan ekspektasi menang membuat rasa syukur menjadi reaksi utama ketika hasil diumumkan. “Alhamdulillah,” ujarnya sederhana.
Dari pengalaman ini, Rizkyana menekankan pentingnya konsistensi. Menulis sekata-sebaris setiap hari untuk menjaga momentum. Manfaatkan waktu sebaik mungkin, jangan biarkan waktu luang berlalu tanpa produktivitas, dan selalu melihat masalah dari berbagai sudut pandang. Untuk teman-teman mahasiswa yang ingin mencoba, ia memberikan pesan tegas. Jangan takut mencoba tuangkan ide, perbaiki kalau salah, dan terus membaca serta menulis. Menurutnya, menulis bukan hanya soal buku; baca juga alam sekitar, lalu ubah keresahan menjadi gagasan.
“Jangan pernah takut mencoba apapun. Ada ide, tuangkan saja salah benar kita bisa memperbaikinya. Baca, tulis, baca, tulis. Menulis adalah tahapan paling susah dalam berbahasa”. (put/sus)


